News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tak Tamat SD Tapi Berjiwa Sosial Tinggi, Sumardin Nikahi Bule Jerman yang Jadi Muallaf

Editor: Wahid Nurdin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sumardin (29) dan Ermina Fransica (35) melangsungkan akad nikah di Kantor Urusan Agama Masamba, Kabupatan Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (17/1/2017).

Di desa yang hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat Kota Masamba, ibu kota Luwu Utara itu, Ermina bersama beberapa rekannya mendirikan sebuah Rumah Pohon, rumah untuk tempat belajar bahasa Inggris untuk warga setempat.

"Awal bulan tiga (2016) saya datang di sini (Baloli) tinggal di rumah Adnan (rekannya) untuk project Rumah Pohon," kata Ermina dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. 

Rumah Pohon di Desa Baloli, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, saat diabadikan, Kamis (21/7/2016).
Rumah Pohon di Desa Baloli, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, saat diabadikan, Kamis (21/7/2016).
Aktivitas di Rumah Pohon di Desa Baloli, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, saat diabadikan, Kamis (21/7/2016).

Dalam project Rumah Pohon itu tersebut Sumardin juga ikut menjadi penggiat.

Aktivitas sebagai penggiat Rumah Pohon menjadi sambilan, dimana pekerjaan sehari-hari Sumardin adalah mengelola kebun.

Pekerjaan itu dilakoni karena pendidikan rendah.

Baca: Lama Tak Terdengar, Begini Kabar Bayu Kumbara yang Nikahi Bule Cantik asal Inggris

"Saya tidak tamat SD (sekolah dasar)," kata Sumardin.

Kendati pendidikannya rendah, namun jiwa sosial Sumardin tinggi.

Semangatnya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa bagi warga masyarakat di desanya tak pernah pudar.

Sama dengan istrinya kini.

Semangat, jiwa yang ditumpahkan di Rumah Pohon membuat mereka bisa menyatu.

"Di situ awalnya kita mulai kenalan," katanya menambahkan.

Baca: Menikah dengan Pria Warga Desa Baloli, Bule Jerman: Kami Dipertemukan Allah

Setelah berpacaran beberapa bulan, hasrat untuk hidup bersama selamanya timbul pada bulan September 2016.

"Pada bulan sembilan (September), kami mengurus berbagai persyaratan untuk bisa menikah," katanya.

Sebelum menikah, Ermina memutuskan menjadi mualaf.

Saat akad nikah, Sumardin mengenakan kopiah, sementara Ermina mengenakan kerudung.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini