Tapi sayang, Rata-rata pria yang saya kenal semuanya masih memiliki ibu yang membuat saya takut.
Rasa fobia yang masih menebal, saya sanggup putus hubungan meskipun saya dah suka dengan pria itu.
Tak putus-putus saya berdoa agar mendapatkan jodoh yang saya inginkan.
Berjalanya waktu saya mengenal suami baru saya dan saya tahu dia masih ada ibu.
Tapi tak tahulah, instinct saya kuat untuk mengenal dan lebih jauh melangkah dengan suami sekarang.
Singkat cerita, kami menikah dan suami memisahkan saya dengan mak dia sebab dia ingin fobia saya tidak muncul kembali.
Hampir setahun suami tak membawa saya pulang kerumahnya, dan mertua kamipun tak mengunjungi kami.
Akhirnya saya sendiri ajak mertua datang ke rumah kami yang kebetulan didekat rumah kami ada rumah keluar suami saya.
Seminggu mertua berada di rumah kami, mungkin dia tak nyaman dengan pelayanan saya. Karena jujur saja saya masih trauma.
Tapi anehnya, mak mertua mulai cerita kisah lama dia dan bagaimana dia juga pernah dibenci oleh mak mertua.
Cerita dia lebih kurang sama dengan saya, bedanya dia tidak sampai bercerai.
Jadi, dari situlah saya mulai nyaman dengan ibu suami saya yang sekarang.
Rupanya mak mertua saya dah tahu sedikit cerita saya, sebab itu dia tidak membesarkan pelayanan saya yang kurang kepadanya.
Malam itu kami sama-sama berlinangan air mata mengenang kisah lama dan dosa saya pada dia. Dia cuma pesan pada saya.