News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Di NTT Ada Siswa SMP Chat Kirim Gambar Bugil

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi
  • 26 May 2026 22:12

    Di NTT Ada Siswa SMP Chat Kirim Gambar Bugil

    Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Edy Bau

    TRIBUNNEWS.COM, ATAMBUA - Perkembangan teknologi komunikasi dan internet membawa dampak positif sekaligus negatifnya.

    Untuk bidang telekomunikasi, anak-anak usia dini pun tak lagi gagap soal yang namanya gawai (gadgetnya).

    Mereka dengan gampangnya mengetahui segala sesuatu yang ada atau terjadi di belahan dunia manapun hanya dengan menekan tombol gawainya.

    Ia Curiga Sang Istri yang Kader Parpol Ada Main, Saat Digerebek Ternyata Lagi Begituan di Hotel

    Tak jarang, kondisi ini bisa menjadi pemicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya kekerasan seksual.

    Di Atambua, Kabupaten Belu, ada pelajar SMP sudah saling mengirimi gambar mesum dengan temannya.

    Kasus ini sempat tidak sempat muncul ke publik karena berhasil diredam dan diselesaikan secara baik.

    Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Erni Ganggas saat diskusi dengan wartawan di Kantor Panitia Pengembangan Sosial Ekonomi (PPSE) Keuskupan Atambua, Senin (21/8/2017).

    Dikatakannya, kasus chatting gambar mesum ini terjadi beberapa waktu lalu dan sempat diketahui oleh instansinya.

    Kasus itu terjadi di sebuah sekolah yakni antara dua pelajar SMP yang berpacaran.

    Diduga karena memiliki perasaan saling cinta, lanjutnya, kedua insan yang belum cukup umur ini saling mengirimi foto bugil.

    "Jadi mereka berdua ini pacaran. Mereka saling kirim fotonya karena saling cinta. Ini sangat mengerikan," ujarnya.

    Kasus ini, lanjutnya, telah diselesaikan secara baik tanpa diumbar ke publik karena akan mempengaruhi psikologi anak-anak tersebut.

    Dari kasus ini, kata Erni, memberi pelajaran penting bagi para orangtua untuk tidak alpa mengawasi anak-anaknya dalam menggunakan gawai dan dalam pergaulan sehari-hari.

    Lebih lanjut dia menyebutkan, dalam tiga tahun terakhir angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten Belu cukup tinggi.

    Dari data yang diperoleh, lanjutnya, ada 812 kasus yang terjadi sejak tahun 2014 dengan rincian, tahun 2014 ada 194 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 105 kasus kekerasan terhadap anak.

    Tahun 2015, ada 155 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 89 kasus kekerasan terhadap anak.

    Di tahun 2016, ada 93 kasus kekerasan terhadap anak dan 176 kasus kekerasan terhadap perempuan.

    "Kalau untuk tahun 2017 datanya sementara kita himpun," ujarnya. (*)

Berita Populer