News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Belajar di Malam Hari Jadi Mudah, Anak-anak Pelosok Flores Timur Terbantu Adanya Solar Lantern

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Anak-anak di Desa Riangbura, Ile Bura, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu malam (28/1/2018), saat tengah belajar bersama dan hanya mendapatkan bantuan penerangan dari solar lantern Panasonic. TRIBUNNEWS.COM/FITRI WULANDARI

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, FLORES - Menjalani kegiatan belajar di pelosok daerah memang tidak mudah. Selain fasilitas yang kurang memadai, infrastruktur di kawasan pelosok pun biasanya jauh dari kata layak.

Seperti yang dialami Marsya, gadis kecil yang tinggal di Desa Riangbura, Flores Timur, kesehariannya belajar di sekolah yang hanya dibantu genset saja untuk bantuan pasokan listrik.

"Di sekolah disediakan genset," ujar Marsya, di Desa Riangbura, Ile Bura, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/1/2018).

Sedangkan untuk kegiatan belajar bersama di sebuah rumah di desa tersebut, gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) itu membawa solar lantern atau lampu dari Panasonic.

Dan jika hujan terjadi di desa itu saat ia hendak menuju ke rumah belajar bersama, ia akan memasukkan lampu ke dalam plastik.

"Kalau hujan, (saya) keluar bawa lampu Panasonic di (dalam) plastik," papar Marsya.

Menurutnya, solar lantern tersebut biasanya diletakkan langsung di bawah sinar matahari untuk mengisi daya.

Baca: Panasonic Sumbangkan 5004 Lentera Surya kepada Pemerintah Indonesia

Pengisian daya tersebut, kata Marsya, dilakukan pagi hingga sore hari.

Pasalnya lampu dari Panasonic memang menggunakan sinar matahari sebagai sumber energinya.

"Lampu Panasonic biasanya ditaruh di bawah matahari pagi sampai sore (untuk me-recharge daya)," jelas Marsya.

Kemudian jika lampu tersebut digunakan pada malam hari secara terus menerus, biasanya lampu akan mati menjelang tengah malam.

"Biasanya lampu dipakai belajar, dan mati sampai jam 10 dan 11 (malam)," kata Marsya.

Marsya merupakan satu dari banyak generasi penerus bangsa yang terpaksa harus bersusah payah menghapal pelajaran pada malam hari, dengan pencahayaan yang sangat minim.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini