News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sindikat Hacker Bobol Grab Rp 6 Miliar di Jateng

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AKBP Teddy Fanani (tengah, baju putih) memperlihatkan kedelapan tersangka, Senin (19/3/2018). TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG

Seperti modus yang digunakan dengan menyiapkan ratusan unit handphone dan sejumlah aplikasi pendukung.

Menurut Teddy, tersangka Tomy diketahui membuat aplikasi yang mampu menjebol sistem operasi Grab dan memanipulasi pantauan sistem dalam aplikasi tersebut.

Para tersangka diketahui bukan asli orang Pemalang dan dua di antaranya berasal dari Jakarta.

"Mereka berasal dari luar kota sengaja datang ke Pemalang dan memakai illegal acces itu. Biasanya para ghost driver ini memilih orderan jarak pendek. Bahkan dengan fake GPS, mereka hanya perlu berdiam di tempat," ungkap Teddy.

Adapun pengungkapan tersebut berawal dari informasi yang dilaporkan pihak Grab kepada polisi.

Laporan itu masuk ke Ditreskrimsus Polda Jateng maupun Polres Pemalang.

Informasi tersebut kemudian didalami dan berhasil mengungkap delapan tersangka.

Sejumlah barang bukti disita yakni, 213 handphone yang digunakan para tersangka, sejumlah perangkat elektronik lain, termasuk memory card dam sejumlah CPU dan laptop.

Dari hasil pemeriksaan sementara, ternyata Tomy pernah beraksi juga sebagai hacker sebelum di Semarang.

Lebih dulu Tomy melakukan praktik serupa di Yogyakarta. Praktik yang dilakukan oleh Tomy diperoleh secara otodidak.

Teddy mengungkapkan, pihaknya masih mengembangkan kasus tersebut karena dimungkinkan masih banyak pihak yang melakukan praktik serupa, terutama driver.

"Pengakuan hacker belajar secara otodidak untuk menerobos sistem Grab. Kalau kerugian pihak Grab akibat illegal acces tersebut mencapai Rp 6 miliar," lanjutnya.

Lebih lanjut, total kerugian itu didapat pihak Grab selama enam bulan untuk wilayah Jawa Tengah saja.

"Kerugian tersebut berdasarkan deposit yang harus dibayarkan pihak Grab kepada driver," paparnya.

Meski dipelajari secara otodidak, praktik menerobos sistem Grab tersebut juga dilakukan atas dorongan seorang temannya yang kini menjadi tersangka juga.

"Karena mayoritas driver pakai fake GPS untuk mengakali banyaknya driver. Fake GPS biasanya untuk menghindari kemacetan. Dari pengakuan Tomy, paling mudah itu meretas sistem GPS lewat android yang lollipop," jelas Teddy. (Tribunjateng/cetak/Gum/hei)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini