TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengungkapkan, pertanian jenis tembakau menjadi mata rantai penghidupan penting bagi konstituennya Probolinggo, di Jawa Timur.
Politisi Partai Golkar itu menegaskan, pertembakauan telah menghidupi banyak warga,bukan sekadar antara petani dan pedagang, tapi juga menyediakan lapangan kerja di bidang perajangan dan penjemuran.
“Saya merunut tembakau dari petaninya di sawah, berlanjut ke perajangan daunnya, usaha penjemuran, hingga pedagang di pasar,” ujar Misbakhun, Sabtu (11/8/2018).
Saat reses, dalam penjelasannya ia menemui konsituennya, Misbakhun menyematkan diri menemui konsituennya, para petani, tukan ranjang, penjemur hingga pedadang tembakau di Desa Gondo Sulih, Kecamatan Probolinggo, Jawa Timur.
Mantan pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Keuangan itu sempat menemui seorang petani sewa bernama Samidjan yang menggarap tiga petak sawah. Masing-masing petak sewaan Samidjan seluas 2.000 meter persegi.
Sudah 38 tahun Samidjan menggantungkan hidup, bertani tembakau. Bapak bagi dua anak dan tiga cucu itu hidup layak dari lahan garapannya. “Harga panennya terjaga, tidak terjebak tengkulak, memperoleh akses bibit tembakau yang unggul dan pupuk tersedia di pasar," kata Misbakhun.
"Jadi, hijaunya daun tembakau yang subur dan terawat mempunyai dampak ekonomi yang mengangkat harkat hidup Pak Samidjan dan keluarganya,” lanjutnya.
Misbakun yang tak lain wakil rakyat dari daerah pemilihan Probolinggo dan Pasuruan itu juga menemui Inthon (54), seorang buruh tani tembakau. Inthon tinggal bersama istrinya di rumah yang sangat sederhana.
Atap rumah genteng tanpa plafon. Dinding rumahnya tembok batu bata yang sebagian sudah terkelupas.
Inthon baru saja mengentaskan putra pertamanya, Alwan Fathony lulus perguruan tinggi swasta di Kota Probolinggo. Alwan belum lama ini diwisuda sebagai sarjana sastra Inggris.
Sedangkan anak kedua Inthon saat ini masih menimba ilmu di pesantren. “Saya doakan masa panen kali ini baik, dijauhkan dari hama dan harganya terjaga,” harap Misbakhun.
Politikus yang namanya melambung saat mengungkap kasus skandal bailout Bank Century itu juga menemui para tukang rajang daun tembakau. Profesi itu membutuhkan keterampilan tersendiri karena tukang rajangnya menggunakan pisau besar tanpa gagang dan mendorong gepok demi gepok daun tembakau untuk dirajang dalam ukuran sama.
Tembakau yang dipanen biasanya diinapkan selama 3 hari 2 malam sebelum dirajang dengan pisau khusus. Rajangan daun tembakau itu lantas dijemur di atas lembaran anyaman bambu yang disebut bidig.
“Ongkos buruh yang mengatur lembaran tembakau rajangan bisa Rp 1.000 per bidig. Jadi tembakau bukan sekadar dari petani langsung pedagang, tapi ada proses perajangan dan penjemuran,” tutur Misbakhun.
Di Desa Gondo Sulih, ia juga menemui Samsudin (36) yang berprofesi sebagai pedagang tembakau rajangan. Dalam seminggu sekali, bapak dua anak itu menjual tembakau rajangan ke gudang pabrik rokok di daerah Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Paling tidak, seminggu sekali pula Samsudin menyetor 10 ton tembakau rajangan ke gudang pabrik rokok. Harga 10 ton tembakau itu tak kurang dari Rp 30 juta, bahkan terkadang bisa mencapai Rp 36 juta.
Baca tanpa iklan