Untuk itu, Hamli mengajak para generasi muda untuk waspada terhadap lingkungan. Pasalnya, mereka-mereka yang terlibat kelompok radikalisme dan terorisme biasanya menggunakan narasi-narasi yang dibangun untuk mempengaruhi targetnya.
Menurutnya, narasi yang dibangun kelompok radikal biasanya mengangkat isu bahwa Islam terdzolimi, Islam dipojokkan, Islam dianaktirikan. Selain itu, mereka juga suka menggunakan sentimen kepentingan asing.
“Kalau ada kata itu Anda harus waspada., mereka selalu membawa emosi agar kita melawan asing, pemerintah, yang dianggap mendzolimi umat Islam. Ketika itu dilontarkan maka harus waspada dan harus bertanya kepada orang yang lebih tahu, tanya ke dosen, rektor, kiai, ulama, yang lebih paham,” ujar Hamli.
Baca tanpa iklan