Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo
TRIBUNNEWS.COM, GUNUNGKIDUL - Umumnya, seseorang yang mencalonkan diri sebagai legislatif biasanya dikenal dengan kemampuan ekonomi di atas rata-rata.
Namun hal tersebut ingin dipatahkan oleh Dwi Handoko.
Pria yang sehari-hari membuka usaha reparasi sepatu atau sol sepatu di depan Pasar Argosari ini memberanikan diri untuk ikut berkompetisi pada pemilu 2019.
Cara kampanye pun dibilang irit biaya yakni mensosialisasikan program-programnya kepada para pelanggan reparasi sepatunya.
Ia juga memperkenalkan diri bahwa ia ikut dalam pemilu 2019.
Ia mulai memberanikan diri untuk memperkenalkan diri dan programnya setelah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gunungkidul sebagai calon legislatif (caleg).
"Biasanya saya tanya dulu asal pelanggan dari mana kalau pas dengan daerah pilihan saya (dapil) biasanya saya memberanikan diri untuk memperkenalkan diri sebagai caleg," ujarnya pada Tribunjogja.com, Kamis (14/2/2019).
Dengan keterbatasan dana, dirinya tidak berhenti berpikir bagaimana cara berkampanye dengan mengeluarkan biaya kecil.
Baca: Affandy Pelaku Perusak Baliho Caleg di Manggala Makassar Dibawa ke RS Jiwa
Selain itu dirinya juga memaksimalkan posisinya sebagai pengurus Organisasi Muhammadiyah.
Usahanya merupakan warisan orangtuanya yang sudah berdiri sejak 1970-an.
Usaha tesebut ia teruskan pada tahun 2006 setelah sebelumnya dirinya berkecimpung di dunia bisnis transportasi.
Dwi Handoko harus rela banting stir sebagai tukang reparasi sepatu lantaran bisnis transportasi bangkrut.
Ia menceritakan, hasil dari bisnis sol sepatu tidak menentu terkadang mendapat Rp 50 ribu perharinya.
"Dari hasil itu untuk membiayai keluarga dan juga sekolah anak, anak pertama alhamdulillah diterima sebagai CPNS sedangkan anak kedua saya baru skripsi," katanya.
Baca tanpa iklan