Pada pengikut thoriqoh Musa ini tidak hanya warga Kecamatan Badegan, tetapi juga ada yang dari Kecamatan Jambon, Kauman, Balong, bahkan ada beberapa warga dari Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri.
"Mereka biasanya sering mengikuti kegiatan pengajian di rumah Khotimun di Desa Watubonang. Kegiatan pengajian di rumah itu dilaksanakan dua kali seminggu," jelas dia, Rabu (13/3/2019) malam.
Sementara itu, tetangga Khotimun, Maskur (40) dan Ngatini (38) mengaku tidak tahu keberadaan Khotimun.
"Nggak tahu pergi ke mana, saya bukan asli sini, saya perantauan, orang Wonogiri. Istri yang orang sini," kata Maskur, saat ditemui, Rabu (14/3/2019) sore.
Senada dikatakan suaminya, Ngatini (38) juga mengaku tidak tahu keberadaan tetangganya. Namun ia membenarkan, bahwa Khotimun tinggal bersama anak dan istrinya di rumah tersebut.
"Niku wangsul malih (itu pulang lagi), kadang satu dua hari pulang. Ngga tahu perginya ke mana," katanya
Ibu dua anak ini mengatakan, di depan rumah Khotimin terdapat surau atau mushola dari bambu dan kayu yang dipakai untuk pengajian. Biasanya, yang mengaji di tempat itu adalah anak-anak.
"Ya dipakai ngaji biasa, ngaji iqro anak-anak," kata Ngatini.
Hal yang sama juga dikatakan Ruminah (35) yang rumahnya hanya berjarak sekitar lima meter dari rumah khotimin.
"Saya memang tetangganya, tapi saya nggak tahu," katanya.
Ibu dua anak ini mengatakan, dulu anaknya memang pernah ikut ngaji belajar iqro di tempat Khotimin, namun saat ini sudah tidak lagi.
"Dulu anak saya pernah ikut ngaji, tapi sekarang sudah tidak," katanya.
Pantauan di lokasi, surau yang berdinding bambu dan kayu di depan rumah Khotimin tampak sepi. Begitu juga rumah Khotimin.
Di depan rumah Khotimin terdapat beberapa gambar pria bersurban, bertuliskan Kyai Agus Muhammad Romli Sholeh yang ditempel di tembok dan jendela rumah.
Baca tanpa iklan