Karena itu Dinasnakkeswan baru mengirim tim ke Nyawangan hari ini, Selasa (3/12/2019).
“Kami mengirim petugas hari ini untuk melakukan investigasi,” ucap Mulyanto.
Petugas yang dikirim akan melakukan survei kapan kejadian kematian sapi-sapi ini, dan untuk mencari barang bukti.
Jika bangkai sapi itu dikubur, maka akan dilakukan autopsi untuk memastikan penyebabnya.
Namun jika sapi yang mati itu sudah dijual, maka akan ditelusuri pihak yang membelinya.
“Saya masih belum bisa bicara banyak, karena masih belum pegang data,” sambung Mulyanto.
Mulyanto menegaskan, sapi yang mati seharusnya tidak dijual, sebab dari sisi agama, sapi mati termasuk bangkai yang haram dikonsumsi.
Sedangkan dari sisi kesehatan, sapi mati bisa
Baca: Mayar Predator Asal Tulungagung Termasuk Orang Rumahan, Sulit Dideteksi
menimbulkan penyakit.
Terkait kemungkian sapi tersebut mati diracun, Mulyanto juga belum memastikan apakah racun itu berbahaya untuk manusia.
Sebab ada kalanya racun hanya menyebar di bagian organ dalam sapi, tidak sampai masuk ke dalam daging.
“Kalau hanya organ dalam saja, tidak sampai diserap daging tentunya tidak bahaya,” ungkapnya.
Sedangkan ciri-ciri sebelum sapi itu mati, juga belum bisa dipakai untuk menyimpulkan.
Sebab beberapa penyakit menunjukkan gejala yang sama.
Untuk memastikan dibutuhkan diagnosa terhadap sapi yang sakit.
Baca tanpa iklan