Bunga pohon pacar ini merupakan salah satu unsur dari bunga tabur yang digunakan untuk keperluan bagi mayit atau orang yang telah meninggal dunia.
Hari-harinya diisi dengan mendatangi Gunung Terang untuk mengambil kembang dan menjualnya ke pasar.
Diakuinya, sebelum jalan ini dibetulkan, gerak langkahnya terbatas karena becek dan licin.
"Kalau ngg hati-hati, bisa jatuh. Kalau sekarang, kuantitas bunga yang diambil bisa lebih banyak, karena jalannya sudah rapi," kenangnnya.
Mario Siregar (51) menceritakan bahwa tanah yang ditempati sekitar 117 warga awalnya adalah kebun bunga.
Sehingga kondisi tanah yang membentuk bukit tersebut menjadi sangat licin ketika dibasahi hujan.
Saat itu, jalan setapak yang biasa dilintasi warga juga belum ada. Tapi seiring waktu berjalan dan banyaknya rumah yang dibangun, akhir para pemilik tanah sekitarnya menghimbahkan sebagian tanah untuk lintasan warga menuju kebun bunga.
Baca juga: Cara Erick Thohir Jaga Asa Warga Desa Terpencil untuk Menghasilkan Atlet Berprestasi
Namun, saat itu juga jalan belum diperbaiki, masih berupa tanah. Warga yang akan bekerja atau berkebun, berpatokan kepada cuaca.
"Kalau terang, baru jalan. kalau hujan, jalannya jadi susah, menghambat sekali," katanya lirih.
Hingga akhirnya datang bantuan dari Yayasan Erick Tohir yang menawarkan materiil untuk membangun dan memperbaiki jalan dengan pavling blok.
Tawaran direspon positif dan menerima syarat dari pihak yayasan yang mengiginkan pengerjaan dilakukan secara guyup oleh warga.
"Sekarang aksesnya lebih mudah, kita tidak lagi kenal iklim penghujan atau panas tetap bisa masuk, bawa barang (hasil kebun) keluar masuk tidak takut takut lagi seperti dulu. Dengan akses yang bagus otomatis perekonomian nambah juga karena ada kelancaran di situ," pungkasnya.
Baca tanpa iklan