Tanpa mereka sadari air laut perlahan naik sekitar pukul 16.00 Wita.
Keduanya sempat berusaha untuk berenang, namun Noldi tak sempat menyelamatkan diri.
Awalnya, mereka berniat menggunakan perahu, namun mesin perahu mengalami kerusakan.
Hal ini tidak mengurungkan niat mereka, sehingga mereka memutuskan menyeberang laut yang hanya setinggi perut orang dewasa.
Keduanya mulai memancing dan situasi masih aman pukul 14.00 Wita.
Noldi mulai merasa bosan karena kail pancingnya sering tersangkut di rumput laut.
Ismet sempat menyarankan Noldi untuk kembali ke daratan terlebih dahulu, tetapi Noldi memilih tetap menemani Ismet.
Air perlahan mulai naik hingga mencapai dada orang dewasa.
Air telah melampaui kepala mereka pada pukul 16.00 Wita.
Merasa panik, Ismet dan Noldi berusaha berenang menuju tepi pantai yang berjarak sekitar 200 meter, namun arus semakin kuat.
Melihat Noldi kesulitan, Ismet mencoba menarik tangan Noldi beberapa kali ke permukaan air.
Namun mesin ketinting mereka tiba-tiba mati.
Keduanya lantas melanjutkan niat untuk memancing. Mereka tidak memperhitungkan air laut semakin meninggi.
Ketika matahari mulai condong ke barat, Noldi dan Ismet menyadari air laut sudah setinggi kepala orang dewasa.
Mereka sontak berusaha berenang menuju ke daratan yang sejauh 200 meter tersebut.
Ismet kemudian melihat Noldi kesulitan berenang.
Ia pun berusaha menarik tangan sepupunya itu.
Namun tenaganya yang terkuras saat berenang membuat Ismet tak mampu berbuat banyak.
Ismet terpaksa melepas genggamannya sembari terus berenang hingga ke daratan.
Ismet langsung memanggil warga setempat untuk datang membantu.
Mereka kemudian menaiki beberapa perahu.
Akan tetapi, saat sejumlah warga tiba di tempat, Noldi sudah tak bernyawa.
Sumber: (TribunGorontalo/Arianto/Fadjri)
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribungorontalo.com dengan judul 3 Pemancing Meninggal Tenggelam di Gorontalo Hari yang Sama, 1 di Laut Pohuwato, 2 di Danau Limboto