News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Polemik Iuran Sekolah di Solo yang Memberatkan Wali Murid, Mulai Pengadaan Kipas hingga Wisuda

Penulis: Faisal Mohay
Editor: Suci BangunDS
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RESPATI ARDI - Wali Kota Solo terpilih, Respati Ardi seusai mengikuti sepeda santai dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta, Sabtu (1/2/2025). Wali Kota Solo Respati Ardi melarang adanya iuran untuk peralatan sekolah serta wisuda.

TRIBUNNEWS.COM - Wali Kota Solo, Respati Ardi mendapat aduan dari wali murid terkait iuran sekolah yang memberatkan.

Melalui kanal Lapor Mas Wali, salah satu wali murid SMP Negeri di Solo mengaku diminta iuran pengadaan peralatan kelas, seperti kipas angin dan monitor.

Uang yang harus dibayar setiap siswa sebesar Rp200 ribu dan wali murid tidak sanggup membayarnya.

“Diadakannya empat kipas angin di setiap kelas dan satu layar monitor."

"Nah untuk itu semua ditariklah iuran setiap anak Rp200 ribu. Terus terang, saya keberatan karena saya hanya seorang bapak yang bekerja dengan gaji 100 ribu per minggu. Saya cukup-cukupkan untuk makan,” tulis seorang wali murid di portal ulas.surakarta.go.id.

Menanggapi laporan tersebut, Respati Ardi menyatakan, peralatan sekolah tak boleh dibebankan ke siswa.

“Nggak boleh (iuran kelas). Yang namanya iuran pasti mewajibkan setiap siswa. Nggak boleh,” tegasnya, Selasa (6/5/2025), dikutip dari TribunSolo.com.

Permasalahan serupa dialami sejumlah wali murid di Solo yang mengeluhkan biaya acara wisuda.

Siswa yang akan lulus diwajibkan membayar iuran wisuda yang diadakan di sekolah maupun di luar sekolah.

Respati kemudian mendatangi SMPN 7 Surakarta dan menemukan adanya iuran wisuda sebesar Rp280 ribu.

Dari 250 siswa kelas 9, 73 di antaranya telah membayar iuran wisuda.

Baca juga: Sekolah-sekolah di Jakarta Dilarang Minta Pungutan ke Siswa untuk Wisuda

Bahkan, wali kelas diminta untuk menagih pembayaran ke wali murid.

Respati meminta pihak sekolah mengembalikan uang para siswa dan meniadakan wisuda.

“Malah merepotkan guru-guru. Ora bener (tidak benar). Jangan melibatkan guru untuk nagihi. Saya nggak mau guru-guru nagihi,” tuturnya.

Pihak sekolah diminta mencari sponsor untuk pembiayaan wisuda atau mencari alternatif acara perpisahan yang lain.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini