Menjawab suara kelompok masyarakat, Audy Dien selaku Kepala Bidang Pemanfaatan Ruang Laut dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara, menyorot pentingnya kawasan konservasi perairan sebagai solusi berbasis alam yang tidak hanya melindungi ekosistem laut, tetapi juga menjadi benteng alami untuk mitigasi bencana pesisir.
"Saya mendorong generasi muda mengadopsi gaya hidup ramah laut melalui kolaborasi lintas pihak," ajak dia.
Dalam diskusi itu, Dekan FISIP Universitas Sam Ratulangi, Ferry Daud mewanti, untuk mengubah suatu kondisi, maka public policy adalah jalan.
"Pesan ini mengingatkan siapa saja bahwa keterlibatan anak muda dalam proses perumusan kebijakan publik adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan," kata dia.
Adapun Zetly Estefanus Tamod sebagai Guru Besar Konservasi Tanah dan Air Universitas Sam Ratulangi, menegaskan percepatan krisis iklim saat ini utamanya dipicu oleh aktivitas manusia seperti emisi gas rumah kaca, deforestasi, dan industrialisasi.
Dia pun menyoroti target pemerintah untuk menurunkan emisi hingga 50 persen secara nasional dan 54 persen khusus Sulawesi Utara, dengan dukungan regulasi seperti UU No. 32/2009 serta Peraturan Presiden terkait SDGS.
"Reklamasi pantai membawa dampak serius terhadap ekosistem pesisir dan laut, termasuk terumbu karang," tutup Prof Tamod.
Baca tanpa iklan