Kini GDS tak lagi bersekolah dan tampak murung dalam kesehariannya.
Diakui Misna, ia terpaksa menjadi tukang rongsok demi menafkahi enam anaknya.
"Suaminya udah enggak ada, di Medan udah. Anak semua ada enam. Yang satu udah kerja, yang lain enggak kerja," akui Misna.
"Aku masyarakat pak, makan aja susah, kadang dua hari tiga hari enggak makan. Dapat sebulan buat sewa rumah."
"Dapat cuma Rp600 ribu, sisanya buat beli beras 5 kilo sisanya habis, bayar sewa rumah Rp300 ribu, utang di warung enggak ada," sambungnya.
Dikatakannya, untuk membuat akte kelahiran harus ada buku nikah dan syarat lainya sementara dirinya tidak ada.
"Harapan kami anak saya ini bisa jadi orang dan tidak seperti saya seorang yang cari rongsokan," kata Misna.
"Kalau bisa anak yang terakhir ini sekolah sampai tamat supaya jadi orang bukan seperti ibunya gak tamat sejak kelas 4 SD," terusnya.
Pihak Sekolah Bantah Keluarkan GDS : Dia Minder
Atas isu perundungan yang dialami GDS. akhirnya ditanggapi pihak sekolah.
Wakil Kepala SMPN 13 Bandar Lampung, Abdul Rohman membantah GDS dikeluarkan dari sekolah.
Kata Abdul, pihak sekolah justru masih memantau GDSyang memilih tak lagi bersekolah.
Diungkap Abdul, GDS lah yang minder dan memutuskan untuk putus sekolah setelah tantenya meninggal dunia.
"Tidak ada pembullyan tersebut, mungkin karena anak itu minder dengan sendirinya. Setelah tantenya meninggal, kami lost kontak, dia (Gina) tidak masuk lagi ke sekolah," ujar Abdul Rohman.
Sementara itu, kepala sekolah ( kepsek) SMPN 13 Bandar Lampung, Amaroh mengurai perhatiannya untuk GDS .
Baca tanpa iklan