TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengelolaan sampah telah menjadi tantangan besar bagi banyak wilayah pesisir, termasuk di Provinsi Lampung.
Di tengah meningkatnya volume sampah rumah tangga dan terbatasnya kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA), hadirnya Bank Sampah Kota Karang (Baskora) menjadi inovasi penting yang tumbuh dari masyarakat.
Baskora tidak hanya menjadi tempat menabung sampah anorganik bernilai, tetapi juga ruang belajar bersama tentang bagaimana sampah dapat dikelola secara bertanggung jawab dan bernilai ekonomis.
Baca juga: Proyek PSEL di Tangsel Punya Kapasitas Pengolahan 1.100 Ton Sampah, Disebut Sudah Bisa Dibangun
Sejak awal pembentukannya, Baskora didampingi oleh Mitra Bentala, organisasi lingkungan yang telah lama bekerja bersama masyarakat pesisir untuk memperkuat kapasitas komunitas dalam pengelolaan sumber daya alam dan mitigasi risiko lingkungan.
Pendampingan ini mencakup penguatan kelembagaan, pelatihan pemilahan sampah, tata kelola administrasi, hingga edukasi tentang ekonomi sirkular.
Kehadiran Mitra Bentala menjadikan Baskora tidak hanya sebagai bank sampah biasa, tetapi sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
“Sebagai bank sampah yang baru terbentuk, kami menyampaikan terima kasih kepada Mitra Bentala dan seluruh pihak yang telah mendampingi proses ini. Ke depan, kami berharap semakin banyak warga yang bergabung dalam gerakan memilah dan menabung sampah di Baskora. Kami memahami bahwa sampah plastik menjadi ancaman serius bagi ekosistem pesisir, sehingga melalui bank sampah ini kami ingin menjadi bagian dari solusi bersama.” ujar Sulastri Ketua Kelompok Bank Sampah (Baskora) ditulis, Rabu (19/11/2025).
Namun, kontribusi Baskora tidak berhenti pada tingkat rumah tangga.
Dalam konteks lebih luas, bank sampah menjadi solusi strategis di tingkat komunitas untuk mendukung sistem pengelolaan sampah terpadu, termasuk program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di daerah.
PSEL membutuhkan bahan baku sampah yang terpilah dan stabil, dan di sinilah peran bank sampah menjadi sangat penting.
Dengan pemilahan sejak dari sumber, volume sampah yang masuk ke fasilitas PSEL akan lebih homogen, mengurangi kontaminasi silang, serta meningkatkan efisiensi proses pengubahan sampah menjadi energi.
Rizani, selaku Direktur Eksekutif Mitra Bentala menuturkan operasi bank sampah yang sudah berjalan selama ini memungkinkan untuk mendukung implementasi PSEL yang saat ini menjadi program prioritas pemerintah.
"Namun, hal ini juga harus didukung dengan transformasi inovasi dari sisi teknologi untuk memanfaatkan sampah. Bank sampah dibentuk sebagai solusi di tingkat komunitas mungkin di level daerah akan ada tranformasi di energi listrik seperti perusahaan daur ulang atau sejenisnya," ujarnya.
Karena itu, jika pemerintah daerah ingin mempercepat implementasi PSEL, maka transformasi pada level hulu harus menjadi prioritas.
Baca tanpa iklan