TRIBUNNEWS.COM - Masyarakat terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kini menghadapi ancaman penyakit menular.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, total jumlah pengungsi di tiga provinsi terdampak mencapai setidaknya 577.600 jiwa, per Rabu (17/12/2025).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga flu dan batuk mengancam para pengungsi.
ISPA adalah penyakit peradangan pada sistem pernapasan atas/bawah, seperti pada hidung, tenggorokan atau paru-paru akibat menghirup percikan cairan tubuh yang terdapat virus/bakteri.
1. Kondisi di Aceh
Penyakit ISPA, diare, hingga gatal-gatal dilaporkan terjadi pada korban terdampak banjir, misalnya di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara.
Dilansir Serambinews, memasuki hari ke-20 pascabanjir bandang, kondisi Jalan Nasional masih dipenuhi debu dan sisa material lumpur.
Sejumlah warga juga dikabarkan mengalami gangguan asam lambung.
Kepala Puskesmas Jambur Lak-Lak, Nelly Afni mengatakan jumlah pasien yang datang berobat setiap hari mencapai 60 hingga 70 orang.
“Korban banjir yang berobat setiap harinya sekitar 60 sampai 70 orang. Mayoritas menderita ISPA, gatal-gatal, dan beberapa penyakit lainnya,” ujar Nelly Afni, Selasa.
Dinas Kesehatan setempat membuka lima posko kesehatan yang tersebar di sejumlah desa, yakni Desa Bener Bepapah, Desa Leuser, Desa Ketambe, Desa Simpur Jaya, dan Desa Lak-Lak.
Selain itu, dua unit ambulans telah disiagakan di lokasi bencana.
Baca juga: Musisi Legendaris Jepang Donasikan 50.000 Dolar AS untuk Korban Banjir di Sumatera
Tenaga medis juga diperkuat dengan empat orang dokter yang bertugas di posko-posko kesehatan tersebut.
Ketersediaan obat-obatan hingga saat ini masih mencukupi untuk melayani para pasien.
Tetapi, terdapat beberapa korban banjir bandang yang harus dirujuk ke RSUD Sahuddin Kutacane karena memiliki penyakit bawaan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Baca tanpa iklan