Pengibaran bendera putih tersebut dimaksudkan agar pemerintah hadir melalui kebijakan nyata.
Pemerintah juga didesak agar membuka akses bagi komunitas nasional untuk memberikan bantuan.
Media Asing Sorot Bendera Putih di Aceh
Media asing menyoroti lagi bencana banjir di Sumatra. Salah satunya warga Aceh yang dilaporkan mengibarkan bendera putih.
Ini dimuat laman Singapura, Channel News Asia (CNA). Dikatakan bahwa warga Aceh telah mengibarkan bendera putih untuk menandakan mereka tidak lagi mampu mengatasi kondisi di sana.
"Lebih dari 1.000 orang di pulau Sumatra telah meninggal dalam bencana yang terjadi sekitar 25 November," tulis laman itu dalam artikel berjudul ‘Sumatra floods: Aceh residents raise white flags in desperation as hunger, shortages bite’.
"Namun, bantuan pemerintah kesulitan mencapai beberapa daerah terpencil dan selain kekurangan pangan dan listrik yang belum pulih, masalah kesehatan seperti demam, tifus, dan penyakit kulit juga menimpa para penyintas," tambahnya.
"Warga telah mengibarkan bendera putih di depan rumah-rumah di desa-desa, di sepanjang jalan raya nasional, dan di pos-pos darurat serta lokasi evakuasi. Kantor-kantor pemerintah daerah juga mengibarkan bendera putih untuk memprotes apa yang digambarkan warga sebagai lambatnya respons pemerintah pusat terhadap bencana tersebut, menurut laporan media lokal," muat laman tersebut lagi.
"Banjir telah menghancurkan ribuan rumah dan melumpuhkan ekonomi lokal, dengan pejabat pemerintah senior mengatakan bahwa rekonstruksi di seluruh wilayah yang terdampak di Sumatera diperkirakan akan menelan biaya setidaknya US$3,11 miliar."
Salah satu wilayah yang disebut memuat bendera putih adalah Kabupaten Aceh Tamiang, di Aceh Timur. Dikatakan bahwa bendera juga terlihat di sepanjang jalan raya nasional yang menghubungkan ibu kota Banda Aceh dengan Medan di Sumatera.
Baca juga: Respons Gubernur Mualem dan Mensos Gus Ipul soal Fenomena Ramainya Warga Aceh Kibarkan Bendera Putih
Sementara itu, laman Prancis AFP, memuat tulisan tentang bagaimana warga Aceh korban banjir kini bertahan. Dalam artikel berjudul ‘Indonesians reeling from flood devastation plea for global help’, digambarkan bagaimana beberapa penyintas tak punya tempat tujuan setelah kehilangan rumah dan bisnisnya.
"Nurlela Agusfitri tidak punya tempat tujuan setelah kehilangan rumah dan bisnisnya akibat banjir dahsyat yang menghancurkan pulau Sumatra, Indonesia, dan menewaskan lebih dari 1.000 orang," muatnya.
"Hampir tiga minggu sejak banjir besar melanda pulau itu, Nurlela yang berusia 40 tahun berjalan tanpa alas kaki melewati pohon-pohon yang tumbang dan puing-puing, sementara para korban dan kelompok masyarakat sipil menyerukan bantuan internasional," katanya.
"Nurlela mengatakan dia telah mengungsi bersama dua anaknya saat air menggenang di sekitar rumahnya di desa Pengidam, tempat dia biasa menjalankan kios yang menjual barang-barang seperti minyak goreng dan gula... Ketika dia kembali, tidak ada yang tersisa."
Baca tanpa iklan