TRIBUNNEWS.COM - Sri Prihatin, sosok perempuan asal Dusun Jatisari, Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ceritakan bagaimana ia merawat maggot untuk menjadi pundi-pundi rupiah.
Masih lekat di ingatannya, dua tahun lalu Prihatin yang bergabung dalam kelompok budidaya ikan di tempat tinggalnya mulai beternak maggot.
Maggot adalah larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) yang berwarna putih keabu-abuan, berfungsi sebagai pengurai sampah organik.
Saat belajar dulu, Prihatin merasa jijik, namun lama-kelamaan, kini ia mulai terbiasa dan menikmati proses berternak maggot.
Bahkan, maggot yang dikelola bersama kelompoknya ini kini banyak dicari.
Seperti para pemancing di tempat pemancingan hingga pemancing dengan spot di sungai.
Pada hari Jumat hingga Minggu, maggot miliknya banyak diburu oleh pemancing.
Prihatin tak menjualnya per kilogram, tapi per cup mie.
"Mie gelas itu loh, Mas. Heeh, itu per cup," ujar Prihatin saat ditemui Tribunnews.com, Sabtu (10/1/2026).
Satu cup penuh maggot, ia banderol seharga Rp5 ribu.
Pelanggan Prihatin tak hanya pemancing, tapi juga para peternak ayam.
"Terus kita punya pelanggan juga yang ternak ayam. Ternak ayam kampung,"
Para mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang membudidayakan lele juga jadi pelanggan Prihatin.
"Terus dari mahasiswa UNS juga, itu mereka juga budidaya lele juga ngambil dari kita," ujarnya.
Dibeli Peternak Ayam
Maggot milik Prihatin juga dijual sebagai pengurai kotoran ayam.
Baca tanpa iklan