TRIBUNNEWS.COM - Kursi penonton Gedung Wayang Orang Sriwedari Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada Senin (19/1/2026) terlihat tak begitu ramai.
Malam itu panggung Wayang Orang Sriwedari membawakan lakon berjudul Erangbaya yang menceritakan penyamaran Srikandi menjadi raja yang perkasa bernama Prabu Erangbaya di negara Parangkencana.
Tiga puluh menit berlalu, pemain wanita yang sudah siap tampil dengan setelan kostum dan riasan Dewi Kunti, Rukayah (40) menghampiri sutradara yang bertugas, Andica Very.
Tanpa basa-basi, Andica langsung menyampaikan alur secara garis besar yang dilakukan Dewi Kunti kepada Rukayah.
Rukayah pun menyimak dengan seksama seolah hanya untuk mengembalikan ingatan tentang alur cerita seperti yang disampaikan sang sutradara.
Di ruang sutradara, hanya terlihat beberapa lembar naskah cerita di meja.
Jadwal lakon selama sebulan pun sudah tertempel rapi cermin ruangan sutradara.
Meski berbeda cerita setiap harinya, Andica mengaku tak terbebani dengan hal tersebut.
Malah dia merasa kemajuan zaman sudah membantunya mempercepat proses pembagian pemain.
"Kalau zaman dulu pemberian judul ini dilakukan jam 5, sistemnya masih ditulis pakai kapur. Nantinya sutradara akan melihat siapa saja yang hadir melalui presensi manual. Lalu setengah jam sebelum pentas baru dibagi para pemainnya berperan sebagai apa saja," terang Andica ketika ditemui Tribunnews.com pada Senin (19/1/2026).
Pria lulusan Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu melanjutkan, dengan kemudahan teknologi, penjudulan lakon dan pembagian peran sudah dilakukan secara digital.
Jangka waktu penentuan lakon pun dibuat lebih lama untuk persiapan bagi para pemain wayang orang.
"Perkembangan waktu, sekarang kan (pemain regenerasi) jadi muda-muda, sekarang h-1 sudah kita share alur dan lakonnya," sambungnya.
Baca juga: Akui Tertarik karena Viral, Winona Malah Asyik Berkomedi Bareng Pemain Wayang Orang Sriwedari Solo
Andica pun menjelaskan para pemain wayang orang sudah sangat terlatih sehingga urusan dialog, tata panggung, hingga koreografi dibebaskan kepada para pemain wayang orang.
Meski bebas improvisasi, pemain wayang orang tetap mengikuti pakem dan tidak boleh melenceng dari inti alur cerita yang sedang dibawakan.
Baca tanpa iklan