Adrian menyatakan bahwa Ledok Sambi diibaratkan seperti melting pot atau kuali peleburan.
"Jadi satu wadah buat masak gitu, itu semua bumbu, semua bahan bisa masuk ke situ," tuturnya.
Ledok Sambi diharapkan bisa menjadi lokasi wisata yang berisi orang dari berbagai kalangan.
"Sebenarnya sih tujuannya supaya seperti itu. Jadi bisa benar-benar diterima semua orang dan semua orang itu dapat sesuatu yang jadi tujuan mereka ke sana," paparnya.
Terkait harga tiket wahana permainan, camping, outbound, hingga sewa tempat dapat dilihat di laman ledoksambi.com dan Instagram @ledoksambiecopark.
Cerita Fasilitator
Terpisah, salah satu tim fasilitator menceritakan pengalamannya bekerja di Ledok Sambi di sela-sela outbound yang dilakukan oleh para peserta pada Selasa (27/1/2026).
Yosi Sugito (32) mengatakan bahwa dirinya mulai bekerja sebagai fasilitator di Ledok Sambi sejak tahun 2019.
Selama kurang lebih tujuh tahun bekerja sebagai fasilitator, Yosi mengungkapkan tantangan yang dihadapinya selama ini.
Misalnya, jika pada hari pelaksanaan outbound cuaca sedang tidak mendukung, entah terlalu terik atau hujan deras, dirinya harus memutar otak apakah acara masih bisa dilanjutkan dengan opsi lain atau acaranya diundur.
"Tapi itu satu banding seratus ya. Kita hanya penyesuaian aja ya, terhadap alam," ujar Yosi kepada Tribunnews.com, Selasa.
Sementara itu, menurutnya hal menyenangkan selama menjadi fasilitator adalah bisa bertemu banyak orang dari berbagai kalangan.
"Kita bisa sama-sama belajar, kita memfasilitasi rekan-rekan untuk beraktivitas menyelesaikan tantangan. Pun kami juga ikut belajar dari cara-cara teman-teman menyelesaikan (permainan)."
"Kadang-kadang malah di luar ekspektasi kami, kadang bisa lebih cepat ataupun dia bisa recovery dari kesalahannya menjadi sesuatu yang lebih baik," ungkapnya.
Dari situ, Yosi mengaku bisa belajar mengimplementasikan sesuatu yang dilakukan peserta terhadap permainan yang disajikan.
(Tribunnews.com/Deni)
Baca tanpa iklan