TRIBUNNEWS.COM - Debu halus beterbangan setiap kali mesin pahat mengenai batu.
Di sudut Dusun Kembaran, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, suara mesin itu menjadi irama keseharian Novianto (35).
Dari bongkahan batu, ia membuat kerajinan dengan memahatnya menjadi berbagai jenis bentuk, mulai dari cobek, patung, umpak, hingga kijing makam.
Pria yang akrab disapa Novi itu memulai usaha menjadi pengrajin pahat batu sejak 2015.
Bukan tanpa alasan, ia menilai usaha pahat batu di Muntilan mudah dilakoni.
"Mulai usaha itu sejak tahun 2015."
"Di Muntilan ini, pekerjaan yang saya rasa menarik ya di batu. Ya, usaha paling mudahlah," ungkap Novianto kepada wartawan, Senin (19/1/2026).
Ketertarikannya pada dunia pahat batu bermula dari pengamatan sederhana terhadap usaha teman.
Ia pun belajar memahat batu secara autodidak. Perlahan, keterampilan itu tumbuh, meski ia mengakui masih ingin terus menambah kreativitas.
"(Keahlian dan usaha) Pribadi, dengan melihat usaha teman, langsung berusaha untuk belajar sendiri. Dan, alhamdulillah bisa."
"Walaupun sekarang masih ingin menambah kreativitas," ujar pria 35 tahun itu.
Baca juga: Kisah Perajin Pahat Batu Asal Muntilan, 28 Tahun Produksi Patung hingga Cobek, Belajar Autodidak
Dalam sehari, Novianto mampu memproduksi rata-rata 25 cobek.
Selain itu, ia juga mengerjakan kerajinan pahat batu seperti patung, umpak, dan kijing makam, yang hanya dibuat berdasarkan pesanan.
"Rata-rata 25 cobek per hari."
"Kalau untuk patung, kijing makam, dan umpak itu tergantung pesanan," bebernya.
Baca tanpa iklan