TRIBUNNEWS.COM - Susu merupakan salah satu sumber protein dan nutrisi penting bagi masyarakat. Namun, tingkat konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 16,3 kilogram per kapita per tahun.
Angka ini tertinggal dibandingkan Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang konsumsinya 50–100 persen lebih tinggi.
Selain faktor daya beli dan pola konsumsi, tantangan distribusi di negara kepulauan menjadi penyebab utama.
Sebagai produk bernutrisi yang mudah rusak, susu membutuhkan sistem distribusi yang mampu menjaga kualitas dan keamanannya sejak dari kandang hingga sampai ke tangan konsumen.
Keterbatasan infrastruktur rantai dingin di berbagai wilayah meningkatkan risiko penurunan mutu dan membatasi akses masyarakat terhadap susu yang aman.
Situasi ini menjadi semakin relevan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Dalam program tersebut, susu menjadi salah satu komponen utama pemenuhan gizi.
Serapan Meningkat Sejak MBG
Pengurus Koperasi Usaha Dagang (KUD) Mojosongo, Sriyono, mengatakan sebelum MBG berjalan pada 2024, sempat terjadi pembatasan penyerapan susu lokal oleh industri.
Kondisi itu membuat peternak khawatir karena produksi tidak sepenuhnya terserap.
“Sekarang kebutuhan susu nasional meningkat. Industri banyak yang mengolah susu UHT menggunakan bahan baku susu lokal. Artinya, saat ini penyerapan memang bagus, jadi tidak ada kendala bagi peternak memasarkan susu,” kata Sriyono di Kantor KUD Susu Mojosongo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Senin (23/2/2026) siang.
Ia menjelaskan, sejak MBG berjalan, permintaan dari industri meningkat signifikan. Jika sebelumnya KUD mengirim sekitar 30 ton, kini permintaan bisa mencapai 40 ton untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
Kebijakan itu sejalan dengan instruksi Presiden kepada industri pengolahan susu agar menyerap produksi peternak dalam negeri.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebelumnya menyebut Indonesia masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional, sehingga penguatan produksi lokal menjadi prioritas.
Proses Pengumpulan dan Pendinginan
KUD Mojosongo menaungi sekitar 500 hingga ribuan peternak di wilayah Boyolali dan menjadi salah satu penyuplai terbesar di Jawa Tengah.
Baca tanpa iklan