News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Program Makan Bergizi Gratis

Mengintip Dapur Program MBG di Magetan Jatim, Ada Chef Lulusan AS di Balik Menu Makanan

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DAPUR MBG- Ibas meninjau dapur SPPG Desa Suratmajan, Magetan, memastikan menu MBG higienis dan sesuai standar gizi saat Ramadan.

Ringkasan Berita:

  • Program MBG di Magetan dipantau ketat saat Ramadan. 
  • Ibas tekankan standar higienis dan mutu gizi, DPRD Malang minta SPPG patuhi SOP agar kualitas menu terjaga.

TRIBUNNEWS.COM - Program Menu Makanan Bergizi (MBG) menyasar Magetan, Jawa Timur.

Selama Ramadan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap beroperasi dengan penyempurnaan dalam pelaksanaan di lapangan. 

Chef dapur SPPG, Randi, lulusan Michigan University, Amerika Serikat, jurusan Culinary, terlibat langsung dalam penyusunan menu makanan di SPPG yang berada di Desa Suratmajan, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, pada Jumat, 27 Februari 2026.

Baca juga: Penjelasan Banggar DPR Soal Polemik Realokasi Rp268 Triliun Anggaran Pendidikan untuk MBG

Mengintip Dapur Program MBG di Magetan

Dalam keterangannya, Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), memperlihatkan bagaimana SPPG di Magetan menyiapkan makanan.

Ibas melihat langsung proses operasional dapur mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan makanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kualitas tata kelola dan konsistensi standar pelayanan.

“Saya ingin memastikan operasional dan mekanisme kerja SPPG benar-benar berjalan sebagaimana mestinya. Semua harus bersih, higienis, dan mengikuti standar operasional yang telah ditetapkan,” tegas Ibas saat berdialog dengan para petugas dapur.

Menurutnya, penguatan sistem kerja menjadi faktor penting agar program nasional sebesar MBG dapat berjalan berkelanjutan.

Ia menilai standar prosedur yang jelas, pengawasan berlapis, serta kedisiplinan pelaksana di lapangan perlu terus diperbaiki dan disempurnakan seiring perluasan program.

Tahap awal pengolahan makanan, lanjutnya, menjadi titik krusial dalam menjaga kualitas layanan. Ibas mengingatkan agar bahan pangan yang tidak memenuhi standar kesegaran segera disortir dan tidak digunakan dalam proses produksi.

“Saya tidak ingin ada makanan yang tidak fresh atau berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, harus langsung dikembalikan. Ini menyangkut kesehatan anak-anak kita,” ujarnya.

Selain aspek kebersihan, Ibas juga menyoroti pentingnya peran tenaga ahli gizi dalam memastikan setiap menu benar-benar memenuhi kebutuhan nutrisi penerima manfaat.

Ia menegaskan bahwa MBG harus terus dijaga kualitas gizinya agar manfaat program dapat dirasakan secara nyata dalam jangka panjang.

“Program ini bukan sekadar membagikan makanan. Komposisi, porsi, keseimbangan nutrisi, hingga proses penyajiannya harus tepat agar anak-anak kita tumbuh sehat dan siap menjadi generasi unggul,” katanya.

Baca juga: Seskab Teddy Bantah Program MBG Kurangi Anggaran Pendidikan, Tanggapi Sekolah Terbengkalai

Chef Lulusan AS di Balik Menu Makanan

Dalam kesempatan tersebut, Ibas turut berbincang dengan chef dapur SPPG, Randi, lulusan Michigan University, Amerika Serikat, jurusan Culinary, yang terlibat langsung dalam penyusunan menu makanan.

Kehadiran tenaga profesional dengan pengalaman internasional tersebut dinilai memperkuat kualitas pengolahan makanan di dapur pelayanan gizi.

Ia mengapresiasi penggunaan peralatan modern serta disiplin petugas dapur yang telah bekerja sesuai standar keamanan pangan.

Namun demikian, Ibas menilai peningkatan kapasitas SDM dan konsistensi pelaksanaan standar perlu terus dikawal agar kualitas layanan tetap merata di seluruh daerah.

“Saya melihat praktik yang baik di sini. Ke depan, standar seperti ini perlu terus dijaga dan direplikasi agar kualitas pelayanan MBG sama baiknya di semua wilayah,” ungkapnya.

Ibas juga memberi perhatian pada proses distribusi makanan. Menurutnya, rantai distribusi menjadi bagian penting yang menentukan mutu makanan saat diterima siswa penerima manfaat.

Distribusi yang tepat waktu dan terkoordinasi, katanya, perlu terus diperkuat agar kualitas makanan tetap terjaga hingga sampai kepada penerima. Evaluasi berkala terhadap mekanisme distribusi dinilai penting untuk memastikan efektivitas program semakin meningkat.

“Kata gratis dalam program Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal akses, tetapi soal mutu layanan. Negara hadir bukan sekadar memberi, tetapi memastikan kualitasnya benar-benar baik,” tegas Ibas.

“SPPG di Magetan dapat menjadi contoh dapur pelayanan gizi berbasis gotong royong dan profesionalitas, sekaligus menjadi bagian dari proses penyempurnaan berkelanjutan program MBG agar semakin tepat sasaran, berkualitas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: Keracunan MBG di Cimahi Diduga dari Onigiri, SPPG Jelaskan SOP Memasaknya

DPRD Minta SPPG Patuhi Standar Gizi

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Suyadi, menyayangkan adanya laporan terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai kurang layak selama Ramadan.

Kritik tersebut muncul setelah ditemukannya komposisi makanan yang dianggap belum memenuhi standar gizi seimbang bagi siswa.

Berdasarkan temuan terbaru, menu yang dikirim ke SMP Muhammadiyah 2 Kota Malang terdiri dari empat jenis makanan, yakni kacang rebus, telur puyuh, pisang, dan roti berbentuk pizza.

Suyadi mengaku telah melakukan pemantauan langsung terhadap distribusi makanan program MBG di sejumlah sekolah. Dari hasil pengamatannya, ia mengungkapkan rasa kecewa.

“Kasihan masyarakat yang berharap, tetapi yang didistribusikan seperti itu. Saya pribadi ikut miris juga,” ujar Suyadi, Rabu (25/2/2026).

Ia mengatakan telah menerima berbagai informasi dari masyarakat terkait sajian MBG. DPRD Kota Malang pun mengimbau agar seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang tetap memenuhi komposisi gizi yang telah ditetapkan.

Suyadi menekankan pentingnya memperhatikan masa kedaluwarsa bahan makanan serta standar kelayakan gizi di setiap menu yang disalurkan.

“SPPG harus benar-benar bisa mematuhi standar kelayakan gizi yang sudah ditetapkan Badan Gizi Nasional. Semua dapur MBG sudah dikasih SOP, jangan dilanggar,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kota Malang, Supriyanto, menilai kualitas menu MBG selama Ramadan masih perlu ditingkatkan agar benar-benar memenuhi unsur gizi seimbang.

Ia menjelaskan, pada hari pertama penerimaan MBG selama Ramadan 1447 H, menu yang dibagikan terdiri dari satu buah jeruk, roti abon, dan tempe kering. Menurutnya, komposisi tersebut masih perlu dilengkapi.

“Ya mestinya ada hal-hal yang perlu ditambahkan lagi, seperti keseimbangan antara proteinnya harus ada. Harapan kami MBG ada, namun untuk kualitasnya bisa ditingkatkan lebih baik lagi,” ujarnya.

Supriyanto menegaskan bahwa konsep makan bergizi gratis seharusnya tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tanpa biaya, tetapi juga memastikan kandungan gizinya benar-benar ideal bagi siswa.

“Misalkan lengkap ada susunya, ada proteinnya, kemudian ada buahnya, itu kan lebih ideal. Maka gizinya menjadi poin penting, bukan makannya saja,” tegasnya.

Meski demikian, ia menyebut hingga saat ini belum ada keluhan dari orang tua siswa terkait menu MBG tersebut.

“Sementara belum ada keluhan dari orang tua,” katanya.

Ke depan, pihak sekolah berharap kualitas menu MBG dapat terus ditingkatkan agar sesuai dengan tujuan utama program, yakni mendukung kebutuhan nutrisi siswa selama mengikuti kegiatan belajar.

“Karena makan gratis ini kan bersumber dari pajak masyarakat juga. Artinya aspek gizinya harus diperhatikan,” pungkasnya.


Artikel ini sebagian telah tayang di TribunJatim.com 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini