News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dalang Muda Dani Eko Setiawan: Wayang Mengajarkan Tata Krama dan Nilai Kehidupan

Penulis: Nurkhasanah
Editor: Wahyu Gilang Putranto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DALANG MUDA - Potret Dani Eko Setiawan tampil menjadi dalang dalam pertunjukan wayang. Dalang muda asal Muntilan, Dani Eko Setiawan, menekuni pedalangan sebagai jalan hidup sekaligus sarana menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

Ringkasan Berita:

  • Dani Eko Setiawan, dalang muda asal Muntilan, memaknai seni pedalangan sebagai sarana menyampaikan nilai kehidupan seperti tata krama, kepahlawanan, dan bakti kepada orang tua.
  • Ia belajar memahami dunia wayang secara mandiri melalui YouTube, radio, dan pengamatan terhadap dalang senior hingga akhirnya tampil dalam berbagai pementasan sejak 2021.
  • Ke depan, Dani berharap gaya pakelirannya semakin dikenal masyarakat serta seni wayang terus berkembang di tengah perubahan zaman.

TRIBUNNEWS.COM - Di balik pertunjukan wayang yang sarat cerita dan tokoh-tokoh legendaris, tersimpan banyak nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tidak hanya sekadar hiburan, wayang juga menjadi media untuk menyampaikan pesan moral, tata krama, hingga filosofi hidup.

Hal itulah yang dirasakan oleh Dani Eko Setiawan, dalang muda asal Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. 

Bagi pemuda kelahiran 9 Juni 2003 ini, seni pedalangan bukan sekadar pertunjukan.

Wayang juga menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai nilai kehidupan kepada masyarakat.

“Wayang mengajarkan tata krama. Terkadang setiap lakon juga membawa nilai masing-masing."

"Misalnya tentang kepahlawanan, bakti kepada orang tua, bahkan ada juga yang berkaitan dengan agama,” ujar Dani Eko Setiawan kepada Tribunnews, Selasa (3/3/2026).

Pemuda yang akrab disapa Dani itu pun menilai setiap cerita dalam pewayangan memiliki pesan yang bisa menjadi pelajaran bagi kehidupan sehari-hari.

Menghidupkan Cerita Lewat Improvisasi

Dalam setiap pementasan, seorang dalang tidak hanya menyampaikan cerita secara kaku.

Menurut Dani, improvisasi menjadi bagian penting agar pertunjukan tetap menarik dan sesuai dengan kondisi penonton.

Ia mengatakan satu lakon yang sama tidak selalu bisa dibawakan dengan cara yang sama di setiap tempat.

Karena itu, dalang perlu menyesuaikan penyampaian cerita.

"Terkadang, semisal kita membawakan satu lakon yang sama di tempat yang berbeda, itu tidak bisa kita hanya murni membawakan dengan seperti yang kemarin."

"Harus ada improvisasi, mungkin dari segi lelucon atau alur cerita yang disesuaikan," kata pemuda lulusan SMKN 1 Salam Magelang itu.

DALANG MUDA - Potret Dani Eko Setiawan saat tampil menjadi dalang dalam sebuah pertunjukan wayang. (Istimewa)

Baca juga: Tak Sekadar Nafkah, Pasutri Pemain Wayang Orang Sriwedari Berbagi Kisah Menjaga Cinta dan Tradisi

Selain improvisasi, Dani juga mencoba menggunakan bahasa yang lebih sederhana dalam pementasan. 

Hal ini dilakukan agar cerita wayang lebih mudah dipahami oleh penonton dari berbagai kalangan.

Sesekali ia juga menyisipkan bahasa yang lebih santai selama tidak keluar dari pakem yang ada.

“Bahasa gaul bisa disisipkan, asalkan tidak terlalu melenceng dari koridor yang ada,” ujarnya.

Werkudara Jadi Tokoh Favorit

Di antara banyak tokoh dalam dunia pewayangan, Dani memiliki satu tokoh yang paling ia sukai, yaitu Werkudara atau Bima.

Menurutnya, tokoh tersebut memiliki karakter yang kuat dan penuh kejujuran.

“Werkudara itu orangnya jujur dan tidak suka bertele-tele. Dia kelihatannya kasar, tapi sebenarnya baik,” kata Dani.

Karakter tersebut, menurut Dani, menjadi salah satu contoh nilai yang dapat dipetik dari cerita pewayangan.

Tantangan Dalang di Era Digital

Menjadi dalang di era modern juga menghadirkan tantangan tersendiri.

Dani menyadari bahwa perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat membuat seni tradisi perlu beradaptasi dengan zaman.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah membuat pertunjukan wayang tetap diminati di tengah banyaknya hiburan modern.

"Tantangannya lebih ke bagaimana menarik generasi muda agar lebih cinta terhadap wayang."

"Sekarang semuanya serba cepat, jadi kadang kita juga menyesuaikan dengan memasukkan unsur-unsur yang sedang populer,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu.

Meski demikian, Dani melihat perkembangan yang cukup positif.

Menurutnya, minat masyarakat terhadap wayang mulai meningkat dibandingkan sebelumnya.

Media sosial juga turut membantu mempromosikan pertunjukan wayang kepada masyarakat yang lebih luas.

“Media sosial sangat membantu, apalagi sekarang ada live streaming,” katanya.

Dalang Jadi Jalan Hidup

DALANG MUDA - Potret Dani Eko Setiawan saat tampil menjadi dalang dalam sebuah pertunjukan wayang. (Istimewa)

Baca juga: Akui Tertarik karena Viral, Winona Malah Asyik Berkomedi Bareng Pemain Wayang Orang Sriwedari Solo

Dani telah mempelajari dunia pedalangan sejak mulai tertarik pada 2018.

Ia pun memilih belajar secara mandiri untuk memahami dunia wayang.

Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan memanfaatkan media digital seperti YouTube dan siaran radio.

“Awalnya belajar dari YouTube dan radio, juga melihat dalang-dalang sepuh,” kata Dani.

Ia kemudian mendapatkan kesempatan tampil sebagai dalang untuk pertama kalinya pada tahun 2021.

Pementasan pertamanya berlangsung di Radio Gemilang.

Sejak saat itu, ia mulai tampil dalam berbagai acara di desa-desa hingga kegiatan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Magelang.

Dalam setiap pementasan, Dani biasanya didukung oleh tim yang berjumlah sekitar 25 hingga 30 orang.

Bagi Dani, dunia pedalangan kini bukan lagi sekadar ketertarikan terhadap seni tradisi. 

Seni wayang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Sekarang ya sudah menjadi jalan hidup. Bagi saya ini juga memberikan kepuasan tersendiri,” ujar remaja 22 tahun itu.

Harapan untuk Masa Depan Wayang

Ke depan, Dani berharap gaya pakeliran yang ia bawakan dapat semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat.

“Harapannya gaya pakeliran saya bisa lebih dikenal, diterima, dan diapresiasi,” kata Dani.

Ia juga memiliki keinginan untuk berkolaborasi dengan sejumlah seniman, salah satunya Sri Susilo Tengkleng.

Bagi Dani, seni wayang memiliki peluang besar untuk terus berkembang karena sifatnya yang fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Wayang itu seni yang fleksibel, jadi semoga bisa terus berkembang,” ujarnya.

Ia pun berpesan kepada siapa saja yang ingin menekuni dunia pedalangan agar tidak mudah menyerah dalam belajar.

“Harus tekun belajar dan jangan pantang menyerah walaupun dikritik sana sini. Yang penting jangan fanatik pada satu gaya pakeliran saja,” pungkasnya.

(Tribunnews.com/Nurkhasanah)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini