BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Informasi resmi terkait gempa bumi diimbau hanya mengacu pada kanal resmi BMKG.
Selain itu, masyarakat di wilayah rawan gempa juga disarankan untuk selalu waspada terhadap potensi gempa susulan, meski gempa-gempa dengan magnitudo kecil seperti ini umumnya tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Pemicu Gempa Beruntun
Rangkaian gempa yang terjadi di Bitung, Ternate, hingga Kolaka Timur pada Jumat (3/4/2026) dini hari memunculkan pertanyaan: mengapa gempa bisa terjadi beberapa kali dalam waktu berdekatan atau gempa beruntun?
Gempa beruntun terjadi ketika satu aktivitas tektonik memicu pelepasan energi di beberapa titik yang berdekatan yang dipicu pergerakan lempeng bumi yang belum sepenuhnya stabil setelah satu gempa terjadi.
Dalam banyak kasus, gempa pertama disebut sebagai gempa utama (mainshock), yang kemudian diikuti oleh gempa susulan (aftershock).
Namun, jika kekuatannya relatif mirip dan terjadi berdekatan, keduanya juga bisa disebut sebagai rangkaian gempa tanpa satu pusat dominan.
Indonesia berada di wilayah pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, termasuk di kawasan Sulawesi dan Maluku Utara.
Saat terjadi pergeseran di satu titik, tekanan di sekitarnya bisa ikut berubah yang mengakibatkan energi yang tersimpan di patahan lain ikut terlepas, gempa susulan dalam waktu cepat dan lokasi gempa bisa berdekatan, seperti di laut timur Bitung.
Fenomena ini menjelaskan mengapa dua gempa di Bitung terjadi hanya dalam hitungan menit, sementara wilayah lain seperti Ternate dan Kolaka Timur juga ikut mengalami aktivitas seismik pada waktu yang hampir bersamaan.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Kenali jalur evakuasi di sekitar tempat tinggal
- Hindari bangunan retak atau berpotensi roboh
- Siapkan tas darurat untuk kondisi darurat
Artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul Gempa Guncang Bitung 2 Kali Tadi Dini Hari, Satu Kali di Ternate dan Kolaka Timur
Baca tanpa iklan