TRIBUNNEWS.COM - Di berbagai sudut Indonesia, masih banyak ditemukan rumah kecil yang dihuni oleh belasan orang dalam kondisi memprihatinkan, rapuh, sempit, dan nyaris roboh.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu atau keluarga, melainkan cerminan nyata dari krisis hunian layak yang masih menjadi pekerjaan besar bangsa.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi setiap warga negara.
Namun, bagi sebagian masyarakat, fungsi dasar tersebut tidak terpenuhi.
Seperti yang dialami sebuah keluarga di Kampung Babakan Cikeruh, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Sebuah rumah yang nyaris roboh dihuni 12 orang dari 3 kepala keluarga (KK).
Ironisnya lagi, ukuran rumah itu hanya 3x6 meter.
Penghuni rumah, Saparudin (58) mengatakan, ia bersama keluarga telah menetap di rumah tersebut sejak tahun 2000.
Mulanya, kondisi rumah baik-baik saja. Namun, pada 2013, kondisinya mulai mengkhawatirkan.
Dinding rumah itu terbuat dari bilik bambu. Saat ini, kondisinya sudah banyak berlubang dan keropos.
Sementara lantai rumah itu masih berupa tanah yang hanya ditutup spanduk bekas agar tidak becek ketika hujan.
Baca juga: Prabowo Pastikan Rumah Subsidi dan Renovasi Rumah Tak Layak Huni Terus Diperluas
Saat hujan turun disertai angin, keluarga itu diselimuti kekhawatiran.
"Iya, gini saja kondisinya. Bilik dan ini mau roboh, di dalamnya juga sudah keropos. Jadi takut kalau di dalam, apalagi hujan angin di malam hari. Tapi mau bagaimana lagi," ujarnya kepada TribunJabar.id, Jumat (3/4/2026).
Diungkapkan Saparudin, 12 orang termasuk dirinya hidup berhimpitan setiap hari di rumah nyaris roboh itu.
Tiga keluarga tersebut terpaksa berbagi ruang untuk tidur, beristirahat, dan beraktivitas.
Baca tanpa iklan