News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga LPG Non-Subsidi Melonjak, Dedi Mulyadi Ajak Warga Kembali Manfaatkan Kayu Bakar

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Dedi Mulyadi mengajak warga beralih ke energi alternatif seperti kayu bakar, kompor listrik, dan biogas usai harga LPG nonsubsidi naik. 
  • Ia menilai solusi lokal ini realistis dan bisa bantu masyarakat menghadapi lonjakan harga energi global.

TRIBUNNEWS.COM - Harga LPG nonsubsidi yang terus melonjak mendorong Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak masyarakat kembali memanfaatkan energi alternatif di sekitar mereka.

Ia menekankan warga desa dapat menggunakan kayu bakar, sementara di perkotaan kompor listrik dan biogas bisa menjadi solusi menghadapi kenaikan harga.

Manfaatkan Energi Alternatif

Harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi kembali mengalami kenaikan. Tabung 12 kg kini dijual Rp228.000 atau naik sekitar 18,75 persen, sementara tabung 5,5 kg mencapai Rp107.000.

Kenaikan ini mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan energi alternatif yang tersedia di lingkungan sekitar.

Ia menyarankan warga desa kembali menggunakan kayu bakar, sedangkan warga perkotaan dapat beralih ke kompor listrik.

Selain itu, Dedi juga menekankan pentingnya pengembangan biogas dari limbah ternak, terutama sapi. Menurutnya, biogas merupakan solusi realistis yang sudah dipraktikkan sejumlah peternak di Bandung Barat dan terbukti mampu menghasilkan api memadai untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

“Bisa mengelola kotoran sapi jadi energi gas, bisa sampah, bisa listrik,” ujar Dedi, Selasa (21/4/2026).

Ia menilai masyarakat Jawa Barat memiliki kemampuan beradaptasi dan berinovasi menghadapi kenaikan harga LPG.

“Saya meyakini warga Indonesia ini inovatif dan cerdas,” tambahnya.

Baca juga: Dua Minggu 330 Tersangka Penyalahgunaan BBM-LPG Subsidi Diciduk, Kerugian Negara Capai Rp 243 M

Kayu Bakar, Energi Tradisional yang Masih Jadi Alternatif

Kayu bakar merupakan bahan bakar tradisional yang diperoleh dari cabang, ranting, atau limbah kayu tanpa proses selain pengeringan dan pemotongan.

Meski dianggap sebagai penyebab minor degradasi lahan setelah penebangan komersial, pelarangan pemanenan kayu bakar justru dinilai menyulitkan masyarakat miskin dan tidak menyentuh akar masalah deforestasi.

Secara umum, kayu bakar berasal dari bagian kayu yang tidak digunakan untuk konstruksi atau furnitur, karena memiliki tegangan geser rendah. Kayu ini bisa didapat dari hutan, ranting yang runtuh, atau limbah industri kayu.

Di beberapa wilayah, hutan bahkan dikelola secara lestari untuk menyediakan kayu bakar.

Sejak 1990-an, penggunaan kayu bakar menurun seiring meningkatnya konsumsi arang kayu. Namun, kayu bakar tetap menjadi pilihan masyarakat menengah ke bawah ketika harga bahan bakar lain, seperti LPG, melonjak.

Selain itu, sejumlah kuliner tradisional masih mempertahankan penggunaan kayu bakar karena diyakini memberi aroma dan rasa khas yang berbeda dibanding bahan bakar modern.

Nilai kalor kayu bakar sangat bergantung pada kadar air dan jenis pohon. Kayu kering dengan kadar air 20–25 persen biasanya siap digunakan, sementara kayu hijau memiliki massa dua kali lipat karena kandungan airnya.

Meski kalah praktis dibanding gas atau listrik, kayu bakar tetap menjadi alternatif energi yang relevan bagi masyarakat pedesaan.

Harga LPG Nonsubsidi Naik, Bahlil Lahadalia Tegaskan Ikuti Pasar Global

Pemerintah menegaskan kenaikan harga LPG nonsubsidi dan BBM nonsubsidi terjadi karena mengikuti mekanisme pasar global, bukan ditentukan langsung oleh pemerintah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa pemerintah hanya mengatur harga energi bersubsidi, sementara energi nonsubsidi disesuaikan dengan kondisi pasar internasional.

"Nah, kenapa harganya naik? Saya katakan bahwa kita mengatur harga yang bisa menjamin untuk harganya enggak naik itu adalah yang bersubsidi. Sementara yang tidak bersubsidi itu dipakai oleh industri, jadi itu memang tidak kita atur harganya," ujar Bahlil.

Ia menambahkan, penentuan harga dilakukan berdasarkan formulasi yang mengacu pada harga energi global, termasuk referensi dari Saudi Aramco. Jika harga energi dunia turun, maka harga LPG dan BBM nonsubsidi juga akan ikut menyesuaikan.

Meski demikian, pemerintah memastikan harga LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram tetap aman dan tidak mengalami kenaikan. Bahlil menegaskan, sejak pertama kali diterapkan pada 2006, harga LPG 3 kg tidak pernah dinaikkan oleh pemerintah.

"Tapi kalau untuk LPG 3 kg sejak LPG diterapkan tahun 2006 apa 207, LPG itu sampai dengan sekarang belum pernah kita naikkan harga dari pemerintah. yang ada itu adalah dimainkan harganya di distributor dan pangkalan," jelasnya.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga telah melakukan penyesuaian harga LPG nonsubsidi per 18 April 2026. Harga LPG 12 kg naik dari Rp192.000 menjadi Rp228.000 per tabung atau sekitar 18,75 persen.

Kenaikan juga terjadi pada LPG 5,5 kg yang kini menjadi Rp107.000 per tabung. Penyesuaian harga ini berlaku di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat.

Pemerintah menegaskan, kebijakan ini dipengaruhi dinamika harga energi global dan situasi geopolitik dunia, sementara energi bersubsidi tetap dijaga untuk melindungi masyarakat.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Dedi Mulyadi Ajak Warga Desa Pindah ke Kayu Bakar dan Biogas Akali Naiknya Harga LPG

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini