News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dengar Nilai Cathlyn Calon Paskibraka Cukup, tapi Dicoret, Wali Kota Makassar: Berharap Proses Fair

Penulis: Pravitri Retno Widyastuti
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ia siap menerima konsekuensi jika pihaknya terbukti melakukan kecurangan dalam proses seleksi calon Paskibraka nasional untuk Provinsi Sulsel.

"Dan, memang pada saat itu memang dikeluarkan semua pendamping dari kabupaten dan hanya seluruh peserta seleksi."

"Kalau kami mau kucing-kucingan tidak perlu ada peserta seleksi di dalam, langsung kami tetapkan, tetapi pada saat itu kita memang lakukan pendalaman betulkah ini nilainya kita cek lagi satu kali, tapi itu disaksikan semua siswa," tuturnya.

"Kalau ada bisa buktikan Cathlyn masuk tiga besar, saya siap apapun risikonya. Logikanya masa kita kasih gugur orang karena bahasa daerah, masuk akal tidak, kita mau kasih gugur orang karena dia Tionghoa, itu tidak," pungkasnya.

PPI Makassar Sebut Ada Kejanggalan

Sebelumnya, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar, Muhammad Fahmi, menilai ada kejanggalan dalam proses seleksi calon Paskibraka.

Ia menilai mekanisme penilaian tidak terbuka.

Sebab, para pendamping dari peserta seleksi tidak diperbolehkan masuk saat penentuan tiga besar calon Paskibraka nasional.

"Tim penilai kan banyak unsur, dari informasi kami himpun. Teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian," ujar Fahmi saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (25/5/2026).

"Tapi penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan. Satu kali dulu, baru dikeluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan. Kita tidak permasalahkan siapapun lolos," sambung dia.

Fahmi juga mempertanyakan indikator penilaian, salah satunya adalah kemampuan menguasai bahasa daerah.

Ia mengatakan hal itulah yang berpengaruh pada kelulusan Cathlyn Yvaine Lesmana.

Padahal, kata dia, Cathlyn menguasa bahasa Inggris dan Mandarin.

Fahmi juga mengaku mendengar kabar tim penilai melakukan penilaian tak sesuai indikator nilai dari PPI Pusat.

"Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?" kata Fahmi.

"Tidak ada aturan baris berbaris menggunakan bahasa daerah, di pusat pun pakai bahasa Indonesia"

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini