TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) resmi menutup Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII dan menetapkan sebanyak 84 peserta lulus setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan.
Para peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan.
Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional merupakan program strategis Lemhannas RI yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.
Selama pendidikan berlangsung, peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai geopolitik, geostrategi, ketahanan nasional, kepemimpinan strategis, serta berbagai isu aktual di tingkat nasional maupun global.
Selain menerima materi dari para pakar dan pemangku kepentingan strategis, para peserta juga diwajibkan menyelesaikan berbagai penugasan akademik, seperti kajian kebijakan, policy brief, diskusi strategis, hingga penyusunan Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang mengangkat isu-isu penting pembangunan nasional.
Pada acara penutupan yang berlangsung di Jakarta, Kamis (4/6/2026), Gubernur Lemhannas RI, TB Ace Hasan Syadzily, menegaskan bahwa para alumni P3N Angkatan XXVII harus mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan karakter kebangsaan yang kuat.
Baca juga: Lemhannas Yakin Ekonomi RI Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global
“Para alumni P3N 27 harus menjadi pemimpin nasional yang memiliki integritas, karakter kebangsaan, dan keteguhan moral dalam menjalankan tugas dan pengabdian,” ujar Ace kepada wartawan, Minggu (7/6/2026).
Ia menambahkan, dinamika global yang semakin kompleks menuntut hadirnya pemimpin yang mampu berpikir strategis, adaptif, serta memiliki kemampuan membaca perubahan zaman.
Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi ekonomi digital, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik global, menurutnya, menjadi tantangan yang membutuhkan kepemimpinan visioner.
“Seluruh dinamika tersebut menuntut pemimpin nasional yang memiliki kapasitas strategis, berpikir jauh ke depan, mampu membaca perubahan global, dan tetap menjaga kepentingan nasional,” jelasnya.
Ace juga menekankan pentingnya peran para alumni sebagai perekat persatuan bangsa dan penguat kohesi sosial. Ia mendorong terciptanya kolaborasi lintas sektor serta pengurangan ego kelembagaan demi kepentingan nasional.
“Jejaring strategis antarlembaga, antarsektor, dan antargenerasi sangat penting dalam memperkuat kolaborasi nasional guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ace memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pendidikan dengan disiplin, dedikasi, dan semangat belajar tinggi.
Menurutnya, proses pendidikan yang padat tersebut menjadi bekal penting dalam mencetak pemimpin yang tangguh dan berintegritas.
Baca tanpa iklan