TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN – Setelah 19 hari dihantui kemunculan api misterius yang telah mencapai 123 titik, keluarga Agusyani di Seyegan, Sleman, memilih menempuh dua jalur sekaligus untuk mencari jawaban: sains dan doa.
Di satu sisi, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah lembaga terkait terus mengumpulkan data untuk mengungkap penyebab fenomena kebakaran berulang tersebut.
Di sisi lain, keluarga bersama warga dan relawan akan menggelar doa bersama sebagai bentuk ikhtiar batin menghadapi peristiwa yang hingga kini belum terpecahkan.
Doa bersama dijadwalkan berlangsung Kamis (11/6/2026) malam ini di kediaman Agusyani, Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan.
"Kami mengundang tetangga dan relawan yang selama ini membantu berjaga. Semoga segera ditemukan jalan keluar dan penyebab pastinya bisa diketahui," kata Agusyani, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Api Misterius di Sleman, Kondisi Psikologis Korban hingga Bisnis Usaha Keluarga Terganggu
Menariknya, acara tersebut tidak hanya diisi pembacaan Surat Yasin dan doa bersama, tetapi juga akan menjadi forum penyampaian hasil sementara penelitian yang dilakukan para ahli selama beberapa pekan terakhir.
Keluarga berharap perpaduan pendekatan spiritual dan ilmiah itu dapat memberikan kejelasan terkait penyebab munculnya api misterius yang telah meresahkan lingkungan sekitar.
“Kami memohon doa agar segera ditemukan jalan keluar dan penyebab pastinya bisa diketahui. Semoga para peneliti diberi kesehatan dan kemudahan, dan keluarga kami diberi kekuatan menghadapi ujian ini,” katanya.
Sejauh ini, para peneliti menemukan sejumlah petunjuk awal, mulai dari keberadaan gas hidrogen, dugaan gas fosfin yang mudah terbakar, hingga anomali bawah tanah yang terdeteksi melalui pemindaian georadar dan geolistrik.
Meski berbagai temuan awal mulai mengerucut, penyebab pasti kemunculan api yang telah muncul lebih dari seratus kali itu masih belum dapat dipastikan.
Peneliti Siapkan Alat Khusus
Sementara itu, tim peneliti dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM berencana melakukan pengukuran ulang untuk memastikan keberadaan gas fosfin (PH3) yang diduga berperan dalam fenomena kebakaran tersebut.
Dosen DTGL UGM, Dr. Sarju Winardi, mengatakan pengujian masih menunggu kedatangan alat khusus yang mampu mendeteksi gas fosfin secara akurat.
“Ada kemungkinan dilakukan pengecekan kembali karena kami berencana mendatangkan alat untuk mengukur gas fosfin. Namun alat tersebut masih belum datang dari vendor,” ujar Sarju.
Menurutnya, keberadaan gas fosfin masih sebatas dugaan dan perlu pembuktian ilmiah lebih lanjut. Berbeda dengan gas hidrogen (H2) yang sebelumnya telah terdeteksi melalui pengukuran langsung di lokasi.
Baca tanpa iklan