Pada awal Juni lalu, tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menemukan konsentrasi gas hidrogen yang cukup tinggi di area rumah Agusyani.
Baca juga: BPBD Pasang CCTV Sensor Gerak untuk Jadi Saksi Mata Fenomena Kebakaran Misterius di Sleman
Dari hasil kajian sementara, gas tersebut diduga berasal dari proses fermentasi limbah organik hasil pemotongan ayam yang pernah tertimbun di lokasi.
Selain itu, peneliti juga menelusuri kemungkinan terbentuknya gas fosfin yang berasal dari material kaya fosfat, seperti tulang dan sisa bagian keras bulu ayam. Gas ini dikenal sangat mudah terbakar pada suhu ruang, namun sulit dideteksi karena cepat habis bereaksi dengan oksigen di udara.
Anomali Bawah Tanah
Sebelumnya, tim gabungan dari UGM, UPN Veteran Yogyakarta, BPPTKG, dan Gegana Sat Brimob Polda DIY telah melakukan serangkaian penelitian di lokasi.
Pemindaian menggunakan georadar menemukan indikasi retakan bawah tanah yang diduga menjadi jalur migrasi gas. Penelitian terbaru melalui metode geolistrik juga mendeteksi anomali resistivitas di sisi selatan rumah Agusyani.
Koordinator Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi UGM, Saptono Budi Samudro, menjelaskan anomali tersebut mengindikasikan adanya material berbeda di bawah permukaan tanah.
“Sementara yang terlihat ada anomali di sisi selatan rumah. Nilai resistivitas yang berbeda menunjukkan kemungkinan adanya material yang berbeda pula di bawah permukaan,” kata Saptono.
Meski demikian, para peneliti belum dapat menyimpulkan secara pasti jenis material maupun kaitannya dengan fenomena kebakaran yang terjadi.
Intensitas Api Mulai Menurun
Selain penelitian, tim ahli juga menerapkan metode penjenuhan basa dengan menyuntikkan larutan air kapur ke dalam tanah di sekitar rumah korban.
Metode ini bertujuan menekan aktivitas bakteri yang diduga menghasilkan gas pemicu kebakaran sekaligus membantu melepaskan gas yang masih terperangkap di bawah permukaan.
Sarju menyebut tren kemunculan api mulai menunjukkan penurunan setelah metode tersebut diterapkan.
Jika sebelumnya kebakaran bisa terjadi hingga delapan kali dalam sehari, kini frekuensinya berkisar tiga hingga lima kali per hari.
“Ya mudah-mudahan itu respons dari usaha kami. Semoga trennya semakin berkurang,” ujarnya.
Meski sejumlah petunjuk mulai ditemukan, penyebab pasti munculnya ratusan titik api di rumah Agusyani masih belum terungkap. Peneliti terus mengumpulkan data untuk memastikan sumber fenomena yang hingga kini masih menjadi misteri tersebut. (Tribun Jogja/Singgih Wahyu N)
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Fenomena Api di Seyegan Masih Terjadi, Pemilik Rumah Ingin Ikhtiar Batin
Baca tanpa iklan