TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Kehadiran orang nomor satu, Prabowo Subianto di Provinsi Lampung, Rabu (10/6/2026) kemarin diwarnai sejumlah aksi.
Di antaranya aksi jahit mulut oleh tiga pemuda yakni Dzaki Oktarian, Bondol dan Akbar Sumantri.
Ada juga aksi damai di Tugu Adipura. Di tengah teriknya matahari sekitar belasan pemuda membentangkan spanduk bertuliskan sindiran kepada pemerintahan.
Seperti "Wujudkan Pendidikan Kritis Ilmiah Dan Demokratis".
"Rakyat Menjerit Nilai Tukar Melejit" hingga "Rakyat Menjerit Waktunya Pajakin Orang Kaya".
Baca juga: Prabowo Resmikan RSUD di Krui Lampung: 20 RSUD Telah Naik Kelas Dari Tipe D ke Tipe C
Massa aksi juga membakar ban untuk membakar semangat para demonstran.
Ketiga pemuda yang dijahit mulutnya tidak menunjukkan rasa sakit, tapi justru bersemangat dalam orasi.
Koordinator Lapangan (Korlap) Joshua Sitorus menjelaskan bahwa pihaknya melakukan aksi jahit mulut sebagai bentuk simbolis.
"Kita lihat betapa kuatnya militer membungkam suara-suara sipil. Sementara sipil enggak punya senjata, sipil cuman punya suara dan pikiran kritis," kata Joshua.
"Mereka dibungkam dengan laras senjata dan budaya militer yang coba sama-sama masuk ke ruang sipil," terusnya.
Baca juga: Prabowo akan Resmikan RS KH. Muhammad Thohir, Pertama Program PHTC di Lampung
Pihaknya menjelaskan menjahit mulut menggambarkan situasi hari ini di Indonesia, situasi realitas Indonesia betapa otoriter rezim Prabowo.
"Enggak terbatas pada simbolis ini saja, tetapi kita harus mengkritisi hari ini rakyat sedang susah, tapi di sisi lain Prabowo sukacita pastikan di ruangan berAC," paparnya.
Sementara di sisi lain ada rakyat yang harus mengamen di jalan, dan ada anak muda yang tidak dapat kepastian pekerjaan.
"Ini situasi riil hari ini semuanya dan kita enggak bisa dibungkam saat melihat situasi rakyat hari ini," kata Joshua.
Baca tanpa iklan