Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Almarhum penyanyi sekaligus pencipta lagu pop melankolis terkenal Pance F Pondaag memilih pemakamannya sendiri dengan cara dikremasi.
"Itu permintaan papi. Karena papi minta sama mami. Dia (Pance) emang nggak mau bikin repot siapa-siapa," kata Paul Pondaag, putra sulung Pance F Pondaag, usai prosesi kremasi, Minggu, (6/6/2010).
Pada kesempatan itu, ia sangat berterima kasih atas perhatian semua orang kepada ayahnya. Ia juga mohon maaf jika ayahnya pernah melakukan kesalahan.
"Papi pasti senang kalau dia banyak banget temennya. Dan hari ini, setiap detik selalu ada orang datang. Terima kasih sebelumnya sudah datang ke sini. Dan saya minta maaf kalau ada salah," ujarnya.
Pance meninggal dunia pada 3 Juni lalu, karena radang paru yag dideritanya, pada 59 tahun. Selama 9 tahun, ia juga mengalami stroke. Sempat disemayamkan selama empat hari, tiga malam, di rumah duka RS Atmajaya, Jalan Pluit Raya No.2, Jakarta Utara.
Kemudian, jenazahnya dikremasi di Krematorium Nirwana, Marunda, Jakarta Utara. Abu jenazahnya juga dilarung di pantai yang letaknya tak jauh di lokasi krematorium tersebut. Pance meninggalkan seorang istri bernama Jaty Lizal dan tiga anak yaitu, Paul Pondaag (24), Prisillia Pondaag atau Putri (22), dan Patricia Pondaag atau Tasya (16).
Baca tanpa iklan