Vita tak cukup kesulitan bagaimana mendapatkan karcis. Ia tahu posisi loket karcis, karena selalu memerhatikan tiap kali mengantar Bunda Maya pulang ke Sorong. Sementara uang yang digunakan untuk membeli tiket seharga Rp 250 ribuan, berasal dari penjualan ponselnya saat tiba di Tanjung Priok.Sedangkan kaburnya kedua kali, Vita ikut dengan Emak, perempuan yang dikenal oleh keluarga Maya.
"Vita tahu ada orang yang mau berangkat dari rumah saya. Dia orang lain.
Waktu itu Vita tahu kalau Emak mau ke Sorong. Jadi dia menyusul ke pelabuhan," begitu cerita Vita kepada Maya.Kaburnya Vita dari rumah pada Senin 9 Januari 2012 juga bukan tanpa alasan. Hari itu dipilih karena jadwal keberangkatan kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok tujuan Sorong, Papua, hanya sekali dalam seminggu, yakni Senin.
Selama di kapal itu, Vita mengaku jalan-jalan bersama anak Emak. Maya baru tahu Vita berada di kapal setelah tiga hari berlayar. Waktu itu, Vita menelpon ayah, yang tidak lain suami Maya. Dikatakan Maya, untuk menelpon suaminya, Vita meminjam ponsel Emak. Dan Vita mengaku hapal kedua nomor milik Bunda Maya dan suaminya.
"Saya hapal nomor keduanya. Nomornya ayah sama seperti nomor bundaku. Bedanya hanya nomor belakangnya doang. Kalau nomor belakang Bunda 84, nomor belakang ayah 86," terang Vita yang saat itu berada di pangkuan Maya.
Baca tanpa iklan