“Perlu dilihat traumanya sebesar apa, lalu kita beri pengarahan kalau faktanya itu hanya terjadi pada keluarganya, pada keluarga lain tidak terjadi.”
“Bisa juga dengan cerita-cerita, misalnya kalau ada kejadian kekerasan maka diberi pengarahan untuk membayangkan, jadi nanti anak itu tidak menganggap bahwa di mana-mana kejadianya mirip.”
“Nantinya anak itu tidak menganggap di mana-mana orang tua seperti itu, pandaangan ini yang nanti akan diubah,” ujar Mitarsih.
(Tribunnews.com/Izmi Ulirrosifa)
Baca tanpa iklan