News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Fenomena 'Pacaran' dengan AI, Psikolog Ungkap Bahayanya

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI AI - Ilustrasi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang diunduh dari laman freepik.com, Rabu (4/6/2025). Berikut top 10 perusahaan AI yang memimpin pasar dunia.

Ringkasan Berita:

  • AI mulai menyentuh sisi emosional manusia, bahkan menggantikan kehadiran pasangan
  • Banyak yang merasa lebih nyaman bercerita kepada chatbot atau aplikasi yang dirancang menyerupai pasangan
  • Tren ini menyimpan potensi bahaya psikologis

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di era digital, batas antara dunia nyata dan dunia maya kian kabur. 

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini bukan hanya hadir dalam bentuk alat bantu kerja. Tapi juga mulai menyentuh sisi emosional manusia, bahkan menggantikan kehadiran pasangan.

Fenomena “pacar AI” atau hubungan emosional dengan sistem buatan kini menjadi topik yang ramai di kalangan anak muda. 

Banyak yang merasa lebih nyaman bercerita kepada chatbot atau aplikasi yang dirancang menyerupai pasangan manusia dibanding berinteraksi dengan orang sungguhan.

Namun di balik semua itu, psikolog Irma Gustiana mengingatkan bahwa tren ini menyimpan potensi bahaya psikologis jika tidak disikapi dengan kesadaran dan batas yang sehat.

Ketika Hubungan Nyata Digantikan oleh “Pacar Digital”

Menurut Irma, fenomena ini muncul karena kebutuhan dasar manusia untuk dipahami. 

Dalam dunia yang penuh tekanan sosial, banyak orang merasa lebih aman dan diterima ketika berinteraksi dengan sistem yang tak menghakimi.

“Kenapa kok orang lebih banyak ngadu kepada AI? Atau pacar-pacar (AI) yang memang melalui media sosial, atau memang ada beberapa aplikasi,” jelasnya pada awak media di bilangan Jakarta Selatan, Jumat (24/10/2025). 

Baca juga: Pernah Dihantui Perasaan Bersalah Saat Libur? Psikolog Beri Penjelasan

Irma menceritakan pengalamannya saat mengikuti sebuah workshop tentang relasi dan menemukan banyak remaja yang memiliki aplikasi pasangan virtual. 

Beberapa bahkan menciptakan sosok idealnya sendiri, lengkap dengan nama, karakter, dan cerita romantis yang dibuat melalui sistem AI.

“Kalau klien-klienku sendiri, itu sampai memang nge-print beberapa foto-foto tertentu dari AI segala macam. Itu menjadi bantalan, jadi karena biasa rasa buruk,” ungkap Irma.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana generasi muda mulai mengalihkan kebutuhan emosionalnya kepada bentuk hubungan yang tidak nyata.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan isolasi sosial dan kesulitan membangun relasi sehat di dunia nyata.

Rasa Dimengerti, Tapi oleh Mesin

Hubungan dengan AI sering kali terasa menyenangkan di awal. 

Sistem ini dirancang untuk mendengarkan tanpa menghakimi, menjawab dengan empati buatan, dan selalu tersedia kapan pun pengguna membutuhkannya.

Namun, menurut Irma, perasaan “dimengerti” yang muncul sebenarnya hanyalah ilusi.

“Ketika kita manusia itu sebenarnya ingin dimengerti, ketika kita misalnya cerita dengan si chatbot, dia akan meng-feedback dengan kayaknya itu dirangkul, padahal rangkulan itu tidak nyata sebenarnya, karena itu sebenarnya mesin,” jelasnya.

Bagi sebagian orang, hal ini bisa memunculkan ambisi untuk terus mencari bentuk kasih sayang artifisial, bukan hubungan manusiawi yang sesungguhnya. 

Ketergantungan semacam ini bisa membuat seseorang semakin menjauh dari dunia sosial, dan kehilangan kemampuan untuk menghadapi konflik atau ketidaksempurnaan dalam hubungan nyata.

Perselingkuhan Emosional yang Tak Disadari

Irma juga menyoroti sisi lain dari fenomena ini, yaitu bentuk “perselingkuhan emosional” yang terjadi bukan dengan manusia, melainkan dengan sistem buatan.

“Maka kenapa selingkuh zaman sekarang itu sebenarnya banyak sekali bukan objeknya orang yang nyata. Jadi, perselingkuhan bisa terjadi di AI yang salah satunya,” ujarnya.

Dalam banyak kasus, seseorang yang terikat secara emosional dengan AI akan mulai menarik diri dari pasangannya di dunia nyata. 

Mereka lebih memilih berbagi cerita, keluh kesah, bahkan keintiman emosional dengan chatbot karena merasa lebih diterima.

Padahal, secara psikologis, keterikatan semacam ini dapat menimbulkan kesenjangan emosional dalam hubungan, menurunkan empati sosial, dan memperkuat kebiasaan melarikan diri dari masalah nyata.

Lebih lanjut Irma mengingatkan bahwa manusia hidup untuk berinteraksi dengan sesama manusia. 

Dunia digital seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti. 

Karena itu, menjaga kewarasan di tengah kemajuan teknologi menjadi hal yang semakin penting.

“Makanya kenapa yang harus waras sih, yang dijaga supaya jangan sampai kita involve terlalu jauh. Karena realitanya kan kita hidup harusnya tanpa muka, gitu ya. Bercerita dengan yang real, sebetulnya,” ujarnya.

Menurut Irma, salah satu cara menjaga keseimbangan adalah dengan tetap terhubung secara sosial di dunia nyata. 

Bertemu teman, keluarga, atau mengikuti kegiatan komunitas dapat membantu seseorang tetap membumi dan tidak larut dalam realitas virtual.

Selain itu, membatasi waktu penggunaan aplikasi berbasis AI dan menyadari tujuan penggunaannya juga penting. 

Bila digunakan untuk hiburan atau eksplorasi kreatif, AI bisa bermanfaat. Namun bila mulai menjadi pelarian emosional, saatnya seseorang mengevaluasi kembali batasnya.

Refleksi: Manusia Butuh Kehangatan Nyata

Kebutuhan untuk dipahami, didengarkan, dan dicintai adalah sifat alami manusia. 

Namun, rasa itu hanya dapat tumbuh sehat melalui hubungan yang saling memberi dan menerima antara dua manusia yang nyata.

AI mungkin bisa meniru empati, tetapi tidak bisa menggantikan makna interaksi sejati: tatapan mata, sentuhan, atau emosi yang hidup dalam diri manusia.

Irma menegaskan bahwa isolasi akibat keterikatan digital bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan mental. 

“Kalau ada yang sekarang semakin mengisolasi, dari posisi yang negatif, sebenarnya itu bahaya semua,” pungkasnya. 

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini