TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktris Niken Anjani mengungkap pengalaman kelam di masa kecilnya, ketika ia menjadi korban pelecehan seksual dan bullying.
Pengalaman pahit itu sempat dipendam bertahun-tahun. Ia berusaha menghapusnya dari ingatan.
Menurut Niken, peristiwa pelecehan itu terjadi saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dan pelakunya adalah orang terdekat.
Setelah puluhan tahun menyimpannya sendiri, kini Niken memutuskan untuk menceritakan kisah tersebut ke publik.
"Kita juga bertambah umur dan kita pengen move on. Kita kepengin bergerak, enggak mungkin di lubang itu-itu aja," kata Niken di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Ia berharap tidak ada lagi korban yang mengalami hal serupa.
Baca juga: Kesan Niken Anjani Diarahkan Sutradara Lee Chang Hee Asal Korea untuk Film Keadilan: The Verdict
Keinginan untuk menciptakan ruang aman bagi semua orang menjadi alasan kuat di balik keterlibatannya dalam film Shutter.
Niken menyebut tak membutuhkan waktu lama untuk menerima tawaran bermain dalam film tersebut.
"Bisa dibilang salah satu alasan kenapa saya berani dan mau mengambil film Shutter karena saya merasa sebagai seniman dan pekerja seni, saya bisa berkontribusi, bisa menyuarakan, bisa mengekspresikan perasaan traumatis, sedih, marah, dan kecewa dari korban bullying," ujarnya.
Ia juga berharap pesan moral dalam film itu dapat tersampaikan dengan baik.
"Mudah-mudahan pesannya bisa sampai ke penonton yaitu kalau perbuatan baik pasti akan mendapatkan karma yang baik dan perbuatan buruk juga akan mendapatkan karma yang buruk, sehingga orang-orang bisa lebih peduli dan bisa menciptakan ruang yang aman dan nyaman," jelasnya.
Menurut Niken, ia merasa perlu bersuara untuk mewakili para korban pelecehan seksual yang masih memilih diam karena tekanan sosial.
"Banyak banget kejadian-kejadian yang enggak enak, dan kita perempuan terutama, dipaksa untuk bungkam karena ada yang bilang tabu, ada yang bilang enggak enak, dan segala macam," tuturnya.
Kini, setelah membuka kisah kelamnya, wanita berusia 38 tahun itu bersyukur karena traumanya tidak lagi menghantui.
Ia merasa kedewasaan membantunya untuk bangkit dan melangkah maju.
"Kita pengin move on, kita kepengin bergerak, enggak mungkin diam di lubang itu-itu aja gitu," pungkasnya.
(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)
Baca tanpa iklan