TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak hanya dikenal sebagai aktris, Acha Septriasa kini juga aktif di balik layar.
Perempuan kelahiran 1 September 1989 ini menjadi salah satu co-founder Avarta Media, platform media terintegrasi yang bertujuan memperkuat ekosistem perfilman Indonesia.
Baca juga: 2025 Jadi Tahun Penuh Trauma, Acha Septriasa Yakin Ada Titik Balik Kehidupan
Berbeda dari perannya di depan kamera, Acha berkontribusi sebagai pengarah kreatif, terlibat langsung dalam kurasi cerita dan pengembangan IP.
Ia membawa perspektif pelaku industri yang memahami dinamika artistik sekaligus kebutuhan pasar.
“Saya terlibat sejak tahap paling awal, mulai dari memilih cerita, mengembangkan karakter, hingga memastikan visi perusahaan,” kata Acha di sela peluncuran Avarta Media di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).
Baca juga: Acha Septriasa Ungkap Beratnya Sembunyikan Proses Cerai, Air Mata Tumpah saat Putusan Dibacakan
Avarta Media mengintegrasikan Virtuelines Entertainment, fund perfilman yang didirikan oleh kakak-beradik Setiadharma, yang secara bertahap telah membangun portofolio film Indonesia yang beragam.
Sejak 2023, Virtuelines telah berinvestasi di lebih dari delapan film layar lebar, menjangkau lebih dari 4 juta penonton, termasuk box office Qodrat 2 (lebih dari 2 juta penonton, tayang di 9 negara) dan Kuasa Gelap, film horor eksorsisme Katolik pertama di Indonesia (1,47 juta penonton).
“Setelah 20 tahun dan 55 film di depan kamera, saya memahami apa yang membuat penonton Indonesia tertawa, menangis, dan berpikir. Sebagai co-founder, saya tidak sekadar meminjamkan nama, tetapi aktif membentuk slate kreatif kami,” ujar Acha.
Finalis Gadis Sampul 2004 ini menekankan komitmennya pada cerita yang menghibur sekaligus bermakna, mencerminkan pengalaman Indonesia sambil tetap memenuhi standar internasional.
“Industri ini telah memberikan banyak kepada saya; Avarta Media adalah cara saya membalas,” tambahnya.
Debut Proyek: 9 Aku Cinta Tanpa Syarat
Mengawali debutnya di Avarta Media, Acha mengungkap proyek film 9 Aku Cinta Tanpa Syarat, yang terinspirasi dari kisah nyata Anastasia Wella, perempuan asal Kediri yang mengidap Dissociative Identity Disorder (DID) atau gangguan kepribadian ganda.
Menurut Acha, isu kepribadian ganda sering dianggap fiksi, padahal kasus tersebut nyata di Indonesia.
“Banyak yang belum aware. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin punya versi diri yang berbeda-beda. Bayangkan jika seseorang memiliki sembilan kepribadian,” ujarnya.
Baca tanpa iklan