Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Psikolog berbagi tentang parenting aman.
- Kepatuhan anak belum tentu menjadi tanda parenting yang sehat.
- Ukuran utama pengasuhan yang benar justru terletak pada rasa aman yang dirasakan anak dalam relasinya dengan orangtua.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orangtua merasa berhasil ketika anak terlihat patuh dan menurut.
Namun, menurut psikolog Wiwik Widiyanti M.Psi, kepatuhan anak belum tentu menjadi tanda parenting yang sehat.
Baca juga: Tak Ributkan Gana-gini dan Hak Asuh Anak, Andre Taulany Sepakat Co-Parenting dengan Erin
Dalam sudut pandang psikologi modern, ukuran utama pengasuhan yang benar justru terletak pada rasa aman yang dirasakan anak dalam relasinya dengan orangtua.
Dari pengalamannya mendampingi keluarga dan orangtua, Wiwik melihat masih banyak pola asuh yang keliru dipahami sebagai bentuk kedisiplinan.
Menurut Wiwik, parenting yang benar adalah pola asuh yang membangun secure attachment atau kelekatan aman antara orangtua dan anak.
Anak merasa diterima, dilindungi, dan disayangi, bukan ditekan atau ditakuti.
“Kalau parenting yang benar itu yang harus membuat hubungan yang aman ya. Secure attachment itulah bagi anak,” ujar Wiwik pada Talkshow MOMSPIRATION di kanal YouTube Tribun Health, Kamis (25/12/2025).
Ia menjelaskan, hubungan yang aman akan membuat anak merasa nyaman berada di dekat orang tuanya. Anak tidak hanya patuh secara perilaku, tetapi juga terhubung secara emosional.
Anak Nurut karena Takut, Bukan karena Paham
Wiwi menyoroti masih banyaknya praktik pengasuhan yang keras dan memaksa.
Dalam pola ini, anak sering terlihat nurut, namun kepatuhan tersebut muncul karena rasa takut, bukan karena pemahaman atau kenyamanan.
Situasi inilah yang sering membuat orang tua bingung.
Anak terlihat “baik-baik saja”, tetapi orang tua tidak benar-benar tahu apa yang dirasakan anak.
Baca tanpa iklan