TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gaya hidup serba cepat, pola makan tak terkontrol, dan kebiasaan menyepelekan sinyal tubuh membuat asam urat kerap baru disadari saat nyeri sudah tak tertahankan.
Padahal, asam urat tidak selalu datang dengan serangan hebat sejak awal.
Tubuh sebenarnya memberi tanda perlahan, namun sering diabaikan karena dianggap sekadar pegal atau kelelahan biasa.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Ngoerah, dr. Dewa Ayu Kartika Tejawati, M.Biomed., SPPD, FINASIM, menjelaskan bahwa gejala asam urat berkembang bertahap, seiring kebiasaan hidup yang terus dibiarkan.
Dari “Badan Nggak Enak” Sampai Nyeri Tak Tertahankan
Pada tahap awal, gejala asam urat sering terasa sangat ringan. Bukan nyeri tajam, melainkan rasa tidak nyaman yang samar.
“Kalau yang paling ringan itu mungkin kayak kita agak nggak nyaman ya. Bahkan merasa sendirinya nggak nyaman, badan nggak enak,” jelas dr. Dewa Ayu pada talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Selasa (20/1/2026).
Baca juga: Asam Urat Sering Terasa di Kaki? Dokter Kaitkan dengan Gaya Hidup, Ini Penjelasannya
Keluhan seperti ini kerap muncul setelah pola makan berat, konsumsi makanan tertentu, atau gaya hidup yang melelahkan.
Karena masih bisa beraktivitas, banyak orang memilih mengabaikannya.
Masalah mulai terasa serius ketika asam urat memicu peradangan di persendian. Sendi bisa mendadak bengkak, merah, dan terasa sangat nyeri hingga sulit berjalan.
“Kadang tiba-tiba benar-benar langsung ngeri banget, nggak bisa dipakai jalan,” ungkapnya.
Serangan mendadak inilah yang sering membuat penderita baru menyadari bahwa keluhan sebelumnya bukan sekadar pegal biasa.
Benjolan Putih di Sendi, Tanda Asam Urat Sudah Kronis
Jika asam urat terus tinggi dan tidak ditangani dengan tepat, komplikasi bisa muncul.
Salah satunya adalah terbentuknya benjolan di sekitar sendi atau jaringan bawah kulit yang dikenal sebagai tophus.
“Dia menumpuk di jaringan ikat, di bawah kulit, jadi benjol-benjol. Kayak putih-putih, kayak kapur,” kata dr. Dewa Ayu.
Baca tanpa iklan