News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ade Fitrie Kirana: Anak yang Terus Dihakimi Akan Belajar Menyembunyikan Lukanya

Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

TRIBUNNEWS.COM - Lonjakan gangguan kesehatan mental pada anak dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius bagi aktris sekaligus aktivis sosial, Ade Fitrie Kirana. 

Ia menyoroti fenomena di mana perubahan emosi dan perilaku anak sering kali disalahpahami oleh orang dewasa sebagai bentuk kenakalan atau pembangkangan.

Ade menilai, stigma negatif dan pendekatan yang menghakimi justru menjadi faktor utama yang memperparah kondisi psikologis anak.

Ia mengamati bahwa saat ini kecemasan pada anak kerap dicap sebagai kelemahan, sementara ledakan perilaku atau tantrum sering kali hanya disikapi dengan hukuman.

Baca juga: Ketua DPR RI Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Anak Usai Siswa SD di NTT Meninggal

“Ketika anak menunjukkan perubahan perilaku, itu bukan tanda pembangkangan. Itu adalah 'bahasa' mereka untuk menyampaikan sesuatu. Tugas orang dewasa adalah belajar menerjemahkan bahasa itu, bukan langsung menghakimi,” ujar Ade Fitrie Kirana dalam sebuah forum edukasi di Jakarta.

Menurut aktivis yang konsisten memperjuangkan hak perempuan dan anak ini, pendekatan disiplin yang reaktif dengan hukuman berisiko memutus ruang aman yang seharusnya dimiliki anak di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Jika ruang aman ini hilang, anak akan kehilangan figur untuk bersandar.

“Anak yang didengar akan belajar memahami dirinya. Sebaliknya, anak yang terus-menerus dihakimi hanya akan belajar cara menyembunyikan lukanya,” tegas Ade.

Ia menambahkan bahwa tekanan akademik yang tinggi, paparan dunia digital, serta dinamika sosial yang kompleks telah memberikan beban psikologis besar bagi anak sejak usia dini.

Oleh karena itu, anak tidak boleh dipandang sebagai objek yang harus “diperbaiki”, melainkan individu yang sedang bertumbuh dan membutuhkan pendampingan.

Ade mendorong pergeseran paradigma dari pendekatan disiplin reaktif menuju pendekatan edukatif berbasis empati.

Ia menekankan pentingnya literasi emosi bagi orang tua dan pendidik agar mereka tidak menggunakan standar emosi orang dewasa untuk menilai perilaku anak.

“Solusinya bukan memaksa anak menyesuaikan diri dengan tekanan yang ada, tetapi menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi bagi mereka,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ade Fitrie Kirana mendorong penguatan literasi kesehatan mental di level keluarga. Baginya, komunikasi yang sehat dan rasa aman adalah fondasi utama agar anak mampu mengenali serta mengelola perasaannya dengan baik.

Di akhir pandangannya, ia mengingatkan bahwa kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat memperlakukan anak-anak yang sedang rapuh saat ini.

“Setiap anak yang kita dengarkan dengan empati adalah satu masa depan yang kita selamatkan,” tutup Ade.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini