TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Banyak orang tua masih menganggap waktu terbaik anak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) adalah segera setelah pulang sekolah. Namun, pandangan tersebut ternyata tidak selalu tepat dan bisa berdampak pada kondisi fokus anak.
Psikolog Anak dan Keluarga, Irma Gustiana, menegaskan tidak ada waktu baku yang sama untuk semua anak dalam mengerjakan PR.
Penentuan waktu belajar, menurutnya, harus disesuaikan dengan rutinitas dan kondisi masing-masing anak di rumah.
Bukan Waktu Tetap, Tapi Rutinitas Anak yang Paling Penting
Irma menjelaskan bahwa setiap keluarga memiliki pola aktivitas yang berbeda, sehingga waktu mengerjakan PR tidak bisa diseragamkan.
“Sebetulnya kerjain PR itu bagusnya itu ketika kapan? Kalau aku ya melihatnya, ini kan balik lagi kepada rutinitas harian tiap keluarga, itu kan pasti beda-beda,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, pendekatan yang terlalu kaku justru bisa membuat anak merasa tertekan dan kehilangan konsentrasi saat belajar.
Jangan Langsung Disuruh Kerjakan PR Sepulang Sekolah
Kebiasaan langsung menyuruh anak mengerjakan PR setelah pulang sekolah dinilai kurang efektif. Pasalnya, anak baru saja menjalani aktivitas belajar yang cukup padat di sekolah.
Kondisi tersebut membuat anak membutuhkan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.
“Contohnya dia pulang udah hektik banget, jangan disuruh main PR, dia main dulu, jadi biar otaknya itu ada waktu buat carry charge, jadi gak panas,” jelasnya.
Waktu jeda ini penting agar anak bisa kembali segar sebelum melanjutkan aktivitas belajar.
Baca juga: Memprihatinkan, Makin Banyak Perempuan Bukan Perokok Aktif Jadi Korban Kanker Paru
Waktu Ideal Saat Anak Sudah Tenang dan Siap
Menurut Irma, waktu yang lebih ideal untuk mengerjakan PR adalah ketika anak sudah berada dalam kondisi tenang dan siap belajar kembali.
Biasanya, setelah anak bermain dan beristirahat sejenak, fokusnya akan lebih stabil dan mudah menerima pelajaran.
Dengan kondisi tersebut, proses pengerjaan PR menjadi lebih efektif dan tidak terasa sebagai beban.
Rutinitas Harian Jadi Kunci Utama
Irma menekankan bahwa yang lebih penting bukan sekadar menentukan jam belajar, melainkan bagaimana orang tua mengatur rutinitas harian anak secara seimbang.
“Jadi lebih kepada bagaimana orang tua itu mengatur daily routine, jadi waktu rutinitas hariannya sudah terarah,” katanya.
Baca tanpa iklan