News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Anak dan Lansia Rentan Dehidrasi Saat Puasa, Dokter Ingatkan Jangan Tunggu Rasa Haus Hilang

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BUKA PUASA - Umat muslim mengikuti buka puasa bersama yang disediakan Masjid Istiqlal di Jakarta, Jumat (20/2/2026). Selama bulan Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Istiqlal menyediakan sebanyak 4.000 hingga 5.000 paket nasi kotak pada hari Senin hingga Kamis sementara Jumat, Sabtu, Minggu disediakan antara 7.000 sampai 10.000 paket nasi kotak sebagai menu untuk buka puasa gratis. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak semua orang memiliki risiko yang sama saat menjalani puasa. 

Di balik ibadah menahan lapar dan haus, ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami dehidrasi, bahkan tanpa menyadari tanda awalnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Internis) Subspesialis Ginjal Hipertensi, dr. Yulia Wardhani, Sp.PD, Subsp. GH. (K), mengingatkan bahwa risiko dehidrasi saat puasa bisa dilihat berdasarkan karakteristik usia dan kondisi tubuh.

Menurutnya, pada orang dewasa sehat, umumnya masih mampu mengatur aktivitas ketika mulai merasa haus. 

Saat tubuh memberi sinyal kekurangan cairan, mereka cenderung mengurangi aktivitas yang memicu keluarnya keringat berlebih.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada anak-anak dan lansia.

Anak yang Aktif Rentan Kehilangan Cairan

Anak-anak, terutama yang baru belajar puasa penuh, belum sepenuhnya memahami risiko aktivitas fisik saat berpuasa. 

Mereka tetap aktif bermain, termasuk melakukan aktivitas luar ruangan yang memicu banyak keringat.

Baca juga: Sering Diabaikan! Ketahui Tanda Dehidrasi Saat Puasa yang Bisa Jadi Alarm Bahaya

Tanpa pengawasan dan nasihat yang tepat, aktivitas seperti bermain bola atau berlari di bawah terik matahari bisa meningkatkan risiko kehilangan cairan secara signifikan.

Karena itu, pembatasan aktivitas menjadi langkah penting untuk mencegah dehidrasi selama puasa.

“Coba melimitasi aktivitas yang nantinya bisa memicu cairan itu menjadi lebih banyak luar Jadi kita tidak banyak beraktivitas, mungkin dipakai untuk beristirahat, sehingga nanti bisa menunggu saat berbuka dan tubuh kita bisa terhidrasi lagi," ungkapnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, Rabu (25/2/2026). 

Istirahat dan pengaturan aktivitas membantu tubuh mempertahankan keseimbangan cairan hingga waktu berbuka tiba.

Lansia Punya Risiko Fisiologis Lebih Tinggi

Selain anak-anak, kelompok usia lanjut juga menjadi perhatian serius. Pada lansia, risiko dehidrasi bukan hanya karena aktivitas, tetapi juga perubahan fisiologis tubuh.

Seiring bertambahnya usia, massa otot cenderung menurun. Padahal, otot merupakan tempat penyimpanan cadangan air dalam tubuh. Ketika massa otot berkurang, cadangan cairan pun ikut menurun.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini