News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bela Inara Rusli, Shinta Bachir Mengaku Pernah Rasakan Perihnya Jadi Istri Pertama dan Kedua

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pesinetron Shinta Bachir seolah curhat akan nasib 2 pernikahannya di masa lalu. 

Pengakuan Shinta Bachir guna mengomentari maraknya isu poligami di kalangan selebriti seperti yang terakhir santer diberitakan adalah Inara Rusli.

Baca juga: Pihak Inara Rusli Kecam Aksi Yudi Pratama Bela Mawa, Tuding Pansos hingga Singgung Pelanggaran Hukum

Shinta Bachir  secara tegas membela Inara Rusli, yang kini berstatus istri siri atau yang kedua dari Insanul Fahmi.

Pembelaan ini dikarenakan Shinta Bachir pernah merasakan jadi istri pertama dan kedua dalam sejarah kehidupan perikahannya selama ini.

Shinta Bachir ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan Inara Rusli, yang jadi sorotan publik akibat dinikahi siri dan istri kedua Insanul Fahmi.


Shinta tak menampik bahwa dirinya sangat paham dengan perasaan para wanita yang menjadi korban, khususnya Inara Rusli.

"Aku pernah jadi istri pertama dan kedua. Kalau kalian diposisi aku, kalian mau ada diposisi yang mana? Sakit jadi dua-duanya," kata Shinta Bachir ketika ditemui di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, Kamis (26/2/2026) malam.

Perih Jadi Istri Pertama, Tak Bahagia Jadi Istri Kedua

Shinta mengakui ketika pernah jadi istri pertama, ia merasakan sakit yang begitu pedih karena diselingkuhi oleh suaminya sendiri. Sementara jadi yang kedua, tidak didahului.

"Sakit semua, udah! Kalau nanya ke saya, jadi yang pertama diduain sudah pernah, jadi yang kedua juga tidak enak. Paling enak sekarang, hidup sendiri aja," ucap wanita berusia 40 tahun itu.

Wanita kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah mengakui saat jadi istri pertama, ia selalu menjaga sang suami. Tapi ia tak bisa menjaganya sampai 24 jam.

"Ngapain dijaga? Emang kita bisa jaga 24 jam? Enggak bisa! Laki kita kintilin terus, ntar pas ke toilet ketemu orang, di toilet tukeran nomor handphone, mau gimana? Memang itu udah watak laki-laki," jelasnya. 

"Lu mau agamanya sekuat apa, pura-pura zikir 'Astaghfirullah', begitu lihat perempuan bening ngelirik juga. Imannya lemah juga ujung-ujungnya," sambungnya. 

Shinta Bachir memberikan pemahaman kalau sebagai perempuan, perasaan dan logika harus berjalan beriringan. Tidak bisa dipisahkan agar tidak mendapatkan kekecewaan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini