TRIBUNNEWS.COM - Operasi bariatrik kerap menjadi solusi medis bagi penderita obesitas untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki kondisi metabolik.
Namun dibalik manfaat itu, ada tantangan lain yang perlu diperhatikan, yakni perubahan kondisi psikologis pasien setelah menjalani prosedur ini.
Sejumlah penelitian menunjukkan, pasien bariatrik berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.
Dilansir dari PubMed di bawah naungan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat, sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi akibat perubahan hormon dan metabolik pascaoperasi.
Perubahan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan makanan dan emosi.
Baca juga: Kini Lngsing Usai Bariatrik, Nathalie Holscher Hentikan Makan Nasi Padang
Bagi sebagian orang, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan juga menjadi cara untuk mengatasi stres atau tekanan.
“Bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, rasa frustrasi akan dihadapi pasien. Karena itu, pendampingan psikolog dibutuhkan agar pasien dapat lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan dan menyesuaikan pola hidup serta mindset yang baru,” ujar psikolog klinis Tara de Thouars.
Oleh karena itu, skrining psikologis sebelum operasi serta pendampingan setelah tindakan sangat dianjurkan.
Dokter Spesialis Bedah Digestif dr. Handy Wing mengatakan, operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik.
Prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori, serta respon hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya.
Ia memaparkan, beberapa kriteria minimum untuk bisa menjalani tindakan bariatrik ini, seperti Body Massa Index (BMI) sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien di antaranya: pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30; dan tanpa komorbid dengan BMI di atas 35.
Faktor gaya hidup modern seperti mengonsumsi makanan ultra-proses tinggi gula dan lemak secara berlebihan, kurang aktivitas fisik (sedentary lifestyle), kurang tidur (mengganggu hormon lapar), stress kronis (meningkatkan kortisol sehingga ada dorongan makan emosional) adalah pemicu bertambahnya persentase obesitas di Indonesia setiap tahun.
Pola hidup yang dilakukan bertahun-tahun akan membentuk adaptasi metabolik dimana metabolisme akan melambat dan tubuh akan menganggap berat baru sebagai normal sehingga penurunan berat badan menjadi sulit.
“Siklus inilah yang membuat kenaikan berat badan pada akhirnya sulit dikendalikan. Karena itulah penderita obesitas diharuskan untuk reset pola makan (bukan hanya sekedar atur pola makan) yang memerlukan program weight management yang terstruktur,” ujar dr. Handy.
Baca tanpa iklan