News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Les Seni Bisa Bikin Anak Stres Jika Orang Tua Mulai Memaksakan Target Prestasi

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Penari membawakan tarian modern saat acara Pertunjukkan Seni Tari O-Zone di kawasan Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (11/11/2023). O-Two Dance School menggelar Pagelaran Tari O-Zone bertemakan 'Dream On' yang diikuti 170 penari dari berbagai usia yang Menceritakan bagaimana seseorang menggapai impiannya dengan penuh tantangan, pagelaran ini akan dilaksanakan pada 11 November 2023. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orangtua memasukkan anak ke les menggambar, musik, atau menari demi mengembangkan bakat.

Namun praktisi terapi seni atau Registered Art Therapist, Calvin Pang, MA, AThR, seni bisa berubah menjadi tekanan jika dilakukan karena ambisi orangtua.

Menurutnya, tidak semua anak membutuhkan seni sebagai target prestasi. Kadang anak hanya membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan diri.

“Kadang dalam proses tumbuh besar saya tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan seni. Tapi sekarang saya punya sumber daya untuk anak saya, lalu saya memaksa mereka melakukan seni,” ujarnya dalam Momspiration di kanal YouTube Tribun Health, Selasa (19/5/2026). 

Ia mengatakan paksaan itu justru membuat seni kehilangan fungsi emosionalnya.

Baca juga: Marshanda Yakini Konsep New Earth Parenting, Cinta Tanpa Syarat untuk Anaknya

Calvin menjelaskan, rasa aman menjadi bagian paling penting dalam aktivitas seni, termasuk dalam terapi seni.

“Sense of safety in art making is very important (rasa aman dalam proses berkarya seni sangatlah penting),” katanya.

Menurutnya, seni berbeda dengan kelas akademik yang mengejar hasil atau nilai. Dalam seni sebagai ekspresi diri, proses jauh lebih penting dibanding hasil akhir.

“Kalau di kelas seni ada target, kalau tidak mencapai sesuatu, kita gagal. Tapi seni sebagai ekspresi diri itu sangat berbasis proses,” jelasnya.

Karena itu, anak tidak harus pintar menggambar atau memiliki suara bagus untuk menikmati seni.

Menggambar di Mana Saja Bisa Jadi Media Emosi

Calvin mengatakan seni sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Anak yang menggambar di pasir, meja, atau tisu sebenarnya sedang mengekspresikan diri.

“Anything that can make marks (apa pun yang dapat membuat bekas),” katanya.

Ia menyebut anak pada dasarnya memang memiliki dorongan alami untuk berekspresi. Bahkan bunyi-bunyian sederhana seperti memukul ember dengan stik juga bisa menjadi bentuk ekspresi emosi.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini