Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan utama yang membuat proyek ini terasa spesial.
"Meskipun ini adalah produksi Korea, sekitar 90 persen anggota kru adalah orang Jepang," kata Kim Jae Joong, dikutip Tribunnews dalam MyDramaList, Selasa (9/6/2026).
Ia menilai kerja sama dengan sutradara Jepang menghadirkan karakter unik yang memadukan dua gaya horor populer di Asia Timur.
"Karena kami bekerja dengan sutradara Jepang, film ini menjadi perpaduan antara karakteristik khas J-horror dan K-horror. Saya mengharapkan sinergi ini sejak awal, dan itulah mengapa saya ingin menerima tantangan ini," ujarnya.
Sementara itu, Kong Seong Ha menyoroti kekuatan lain yang dimiliki film ini, yakni keberagaman unsur budaya dan kepercayaan yang hadir dalam cerita.
Menurutnya, "The Shrine" menawarkan pendekatan yang lebih luas dibandingkan film-film bertema okultisme pada umumnya.
"Film ini memadukan berbagai agama dan kepercayaan rakyat," kata Kong Seong Ha.
Ia menjelaskan bahwa penonton akan menemukan banyak elemen unik yang berasal dari berbagai latar budaya dan spiritual.
"Film ini menampilkan lokasi yang indah di Kobe, perdukunan Korea, pertemuan dengan iblis Hindu, dan bahkan seorang pendeta Kristen. Perpaduan beragam tradisi ini akan menjadi poin utama yang dinantikan oleh penonton," tambahnya.
Dengan kombinasi misteri, horor supranatural, serta pertemuan berbagai kepercayaan dan budaya dalam satu cerita, "The Shrine" berpotensi menjadi salah satu film horor Asia yang menarik perhatian penonton tahun ini.
Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop mulai 17 Juni mendatang dan siap membawa penonton menyelami teror yang lahir dari perpaduan dua tradisi horor paling kuat di Asia.
(Tribunnews.com, Rinanda)
Baca tanpa iklan