Ringkasan Berita:
- Paramitha Rusady miris dengan maraknya kasus pelecehan seksual, dengan korban para wanita di Indonesia.
- Aktris dan penyanyi era 1990-an ini tak ingin kasus pelecehan seksual dinormalisasikan.
- Apalagi jika menyalahkan korban perempuan dan memberikan label negatif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktris senior Paramitha Rusady miris dengan maraknya kasus pelecehan seksual, dengan korban para wanita di Indonesia.
Wanita yang akrab disapa Mitha itu sedih karena di lingkungan sekitar rumahnya, juga terjadi kasus pelecehan seksual.
"Saya melihat bagaimana mirisnya dunia saat ini, kejadiannya ada di mana-mana, bahkan baru saja menimpa tetangga saya sendiri. Sangat miris sekali," kata Paramitha Rusady ketika ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Baca juga: Paramitha Rusady Berbagi Ilmu dan Pengalaman di Sekolah Perfilman di Bali
Wanita berusia 59 tahun tersebut meminta masyarakat untuk membuka mata dan mengambil tindakan, jika melihat langsung kasus pelecehan seksual di depan mata.
Paramitha tak ingin kasus pelecehan seksual dinormalisasikan, khususnya dengan menyalahkan korban perempuan.
"Saya menolak terhadap segala bentuk eksploitasi dan perlakuan semena-mena terhadap tubuh perempuan," ucapnya.
Perempuan bernama Raden Pradnya Paramitha Chandra Devy Rusady ini meminta semua orang untuk berhenti memberikan stigma negatif kepada para penyintas atau korban pelecehan.
"Kita tidak boleh lagi menormalkan tindakan yang merendahkan atau memperlakukan tubuh perempuan dengan semena-mena. Harus ada penolakan terhadap hal itu," jelasnya.
"Ingat, para korban bukanlah pihak yang kotor atau bersalah, melainkan para pelakunyalah yang bersalah dan kotor. Stop salahkan korban!" sambungnya.
Paramitha Rusady menilai pelecehan seksual adalah tindakan keji yang kini, tidak lagi mengenal tempat dan bisa mengintai siapa saja di area-area publik yang dianggap aman sekalipun.
"Kita harus waspada karena kejadian seperti ini bisa ada di mana saja. Di sekolah, bahkan di kamar mandi umum sekalipun. Sangat mengerikan sekali. Oleh karena itu, saya merasa sangat perlu hadir di sini untuk bersuara," ujar Paramitha Rusady. (Ari).
Baca tanpa iklan