Berat memang bagi pebasket Amerika keturunan Asia bermain di NCAA Divisi 1. Dari data NCAA Race and Ethnicity Report (2009) hanya ada 18 mahasiswa AS keturunan Asia bermain di Divisi 1 NCAA (0,4%). Di Harvard sendiri, ada 23 mahasiswa memiliki nama belakang 'Lin', namun hanya 1 yang memilih masuk tim bola basket.
Setahun bermain membela Crimson, Harvard kedatangan pelatih baru Harold Tommy Amaker. Pelatih kelahiran 6 Juni 1965 itu adalah point guard universitas Duke, sekaligus asisten pelatih Mike Krzyzewski. Amaker adalah peraih gelar Defensive Player of the Year saat membela Duke (1987). Kemampuan defense dan agresivitasnya diturunkan kepada Lin.
"Kemampuan Lin menyerap segala kemampuan sungguh luar biasa. Saya serasa dikelilingi mahasiswa hebat," ungkap Amaker.
Di tangan Amaker, Lin menjadi menjadi point guard sangat tajam. Konsep permainan Amaker di Harvard adalah menyerang cepat (go go offense) dan bertahan sangat disiplin di half court. Konsep itu membuat Lin menjadi penetrator mematikan sekaligus pengumpan yang tajam.
Dalam catatan statistik semasa di Harvard, Lin mencetak 63% FG jika ia melakukan drive seperti katapel ke paint area lawan. Ia hanya memiliki statistik FG 19,7% di posisi open floor. Artinya, Lin akan mengumpan bola ke kawan jika mereka lebih terbuka! Sebuah karakter penting seorang point guard: unselfish!
Nebeng Tidur dan Bintang
Memberi lima kemenangan berturutan bagi Knicks jelas bukan perkara mudah. Di tengah tekanan terhadap pelatih Mike D'Antoni, Lin memberikan jawaban tepat dan akurat. "Ia adalah pilihan yang tepat. Lin memang istimewa," kata D'Antoni.
Tak ada yang menganggap skill Lin sebelumnya, termasuk Golden State Warriors maupun Houston. Namun, pencoretan Lin dari Rockets untuk Samuel Dalembert, belakangan menguak sebab diwarnai perdebatan sengit di kalangan ofisial tim Rockets. "Seharusnya kami tak melepasnya," kata Darryl More, GM Rockets.
Ketika diambil Knicks dari bursa free agent, Lin tak pernah bersiap lama untuk tinggal di New York. Ia nebeng di kamar kakaknya, Josh, yang tengah studi kedokteran gigi di New York. Ia tidur di aparteman Josh yang hanya memiliki 1 kamar. Sesekali, Lin nginap di apartemen Landry Fields, guard Knicks.
Saat Joseph bertanding basket, ia pun datang dan memberi dukungan. Tentu saja 700an orang yang ada di sana sangat mengenal Lin yang berpenampilan sederhana ini.
"Saya akan melakukan apa saja agar bisa di Madison Square Garden," kata Lin, tentang tim favoritnya itu. Ia mencetak total 134 angka, dan dengan rataan 27,3 poin per gim 8,3 assit, Lin dinobatkan sebagai Player of the Week wilayah Timur. Di Barat, player of the week dimiliki oleh Russell Westbrook.
Ketenaran Lin membuat follower twitter naik dari 70 ribu menjadi 199.314 hanya dalam 3 hari. Online store Knicks mengalami kenaikan traffic sampai 3.000 persen. Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou sampai memberikan contoh perjuangan Jeremy Lin dalam sebuah rapat kabinet di Taiwan, pekan lalu.
"Lin, carilah tempat tinggal yang privat dan aman. Kami mengkhawatirkanmu jika harus hidup nomaden," demikian bunyi twit seorang fan kepada Lin.
Dukungan untuk terus meraih prestasi tinggi diberikan oleh pelatih Heat, Erick Spoelstra yang juga keturunan Asia. "Saya sangat bangga pada usaha dan kerja keras. Ia membanggakan kita," kata Spoelstra. Pemain Heat, LeBron James pun memuji Lin. "Ia adalah fenomena," kata LeBron.
Apakah akan membela negara selain AS jika mendapatkan panggilan? Lin tegas mengatakan ia tidak tertarik. "Saya akan membela AS sebab saya adalah warganegara AS," ungkap Lin. Meskipun terkenal, namun petugas keamanan di Madison Square Garden, selalu melakukan cross cek sebab Lin dianggap sebagai trainer alias karyawan baru!
Baca tanpa iklan